
RADARSOLO.COM – Pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 mulai bergulir pada 1 September. Atlet pelajar dari berbagai daerah pun telah bersiap menuju Semarang Raya untuk bertanding.
Namun, keberangkatan kontingen Wushu Kota Solo ke Popda Jateng kali ini diwarnai polemik. Sejumlah orang tua atlet menyoroti proses seleksi yang dinilai kurang transparan.
Mereka mengaku telah mengajukan sejumlah nama atlet sejak Mei untuk mengikuti seleksi menuju Popda tingkat provinsi. Namun, pengajuan tersebut disebut tidak mendapat respons maupun informasi lanjutan dari Pengkot Wushu Kota Solo.
Nihilnya komunikasi tersebut berujung pada munculnya nama-nama atlet yang akan mewakili Kota Surakarta di Popda Jateng. Sementara sejumlah orang tua mengaku tidak mengetahui kapan dan bagaimana proses seleksi berlangsung.
Baca Juga: Lepas Kontingen Porprov, Atlet Sukoharjo Ditarget Lolos Popnas
Jefri, perwakilan salah satu orang tua atlet menegaskan keberatan, mereka bukan semata-mata karena anak-anaknya tidak terpilih.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada tidak adanya komunikasi dan keterbukaan sejak proses pengajuan nama atlet dilakukan.
“Kami mengajukan nama itu di bulan Mei. Istilahnya kami punya beberapa atlet yang sekiranya berpotensi untuk mengikuti Popda provinsi, tetapi dari pihak Pengkot tidak ada respons, tidak ada jawaban. Kami menunggu sampai dengan Juli,” terang Jefri kepada media, Senin (31/8/2026).
Jefri mengaku awalnya tidak mengetahui adanya proses seleksi yang dilakukan secara internal oleh Pengkot Wushu Kota Solo.
Informasi mengenai seleksi tersebut justru diperoleh dari pihak lain setelah proses seleksi berlangsung di GOR PMS pada 19 Juli.
Orang tua kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya perbedaan perlakuan terhadap atlet yang menjalani latihan di sasana di luar Kota Solo.
Padahal, menurut mereka, atlet yang diajukan merupakan pelajar aktif di Kota Solo dan secara administrasi bersekolah di wilayah tersebut.
Persoalan tersebut kemudian ditanyakan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Solo.
Berdasarkan komunikasi yang dilakukan orang tua, status sebagai pelajar aktif Kota Solo disebut menjadi salah satu dasar utama untuk mengikuti Popda. Sementara lokasi sasana atau tempat atlet berlatih bukan menjadi acuan utama.
“Yang penting pelajar aktif Kota Solo kalau untuk Popda. Kami juga tanya ke dinas mekanisme Popda itu bagaimana. Dari dinas pun pada saat itu mengatakan boleh, pokoknya dia pelajar aktif. Pendaftarannya itu lewat NISN, bukan lewat asal sasana,” jelas Jefri.
Baca Juga: Persis Solo Datangkan Wbeymar Angulo, Nama Juan Mera Bakal Tersingkir? Begini Kata Agennya
Minimnya komunikasi dengan pengkot membuat sejumlah orang tua akhirnya meminta bantuan Dispora untuk menjembatani persoalan tersebut.
Jefri mengaku upaya menghubungi pengurus melalui pesan WhatsApp juga tidak mendapat respons selama berbulan-bulan.
“Karena kami juga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghubungi pengkot. WA kami juga tidak dibalas selama berbulan-bulan. Kami akhirnya minta bantuan ke Dispora. Jadi komunikasi yang berjalan itu kami ke dispora, dispora ke pengkot, begitu juga sebaliknya,” ungkapnya.
Bagi Jefri, persoalan tersebut sebenarnya tidak berkaitan dengan hasil akhir seleksi.
Orang tua, menurutnya, siap menerima apabila atlet yang mereka ajukan tidak lolos, selama proses seleksi dilakukan secara terbuka dan mereka mendapatkan kesempatan untuk mengikutinya.
“Misalkan kami diinfo ada seleksi dan ternyata anak-anak kami ini tidak lolos di seleksi, kami juga tidak akan protes karena melalui mekanisme yang benar,” ujarnya.
Yang membuat para orang tua kecewa, pola serupa disebut bukan baru terjadi pada Popda tahun ini.
Jefri mengklaim sejumlah atlet telah mengalami persoalan serupa selama tiga tahun terakhir.
Pengajuan nama atlet disebut tidak mendapat kejelasan, sementara atlet yang akan diberangkatkan baru diketahui setelah proses penetapan selesai.
“Kami mengalami beberapa atlet itu sudah tahun ketiga. Sudah tahun ketiga, ibaratnya penunjukan tanpa dikomunikasikan, lalu tanpa ada kejelasan juga tahu-tahu nama sudah muncul,” tegas Jefri.
Baca Juga: Dominasi Belum Berbuah Hasil di Piala Soeratin Jateng 2026, Persis Youth Evaluasi Diri
Dia berharap kejadian tersebut tidak kembali berulang. Menurutnya, atlet pelajar seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengikuti proses seleksi sebelum ditentukan siapa yang berhak mewakili Kota Solo pada ajang tingkat provinsi.
“Jangan sampai seharusnya anak-anak ini punya hak, tetapi karena ketidaktahuan anak-anak ini menjadi haknya diambil. Kalau nanti urusan menang-kalah di seleksi, kami sudah mengikuti mekanisme yang benar,” imbuhnya.
Keluhan serupa disampaikan Diah, orang tua atlet lainnya.
Menurutnya, dinamika dalam proses keberangkatan atlet menuju Popda tingkat provinsi telah dirasakan selama beberapa tahun terakhir.
Bahkan, anaknya disebut pernah meraih prestasi pada Popda tingkat Kota Solo, baik tahun ini maupun tahun sebelumnya.
Namun, prestasi tersebut tidak berlanjut dengan kesempatan untuk mengikuti Popda tingkat provinsi.
“Kalau untuk dinamika Popda ini sebenarnya sudah berjalan tiga tahun. Maksudnya dalam tanda kutip dipersulit. Contoh Popda Kota kemarin, anak-anak kami juga ikut dan beberapa naik podium. Tetapi proses untuk mengikuti Popda ini, kami harus bolak-balik ke Dispora karena dari pihak Pengkot sama sekali enggak mau berkomunikasi dengan kami,” terang Diah.
Baca Juga: Kalah Menyakitkan di Dua Uji Coba, Persis Solo Tambah Kekuatan dengan Datangkan Eks Arema FC
Upaya mencari kejelasan kemudian dilakukan melalui dispora.
Dalam pertemuan yang difasilitasi dinas dan dihadiri pengurus cabor serta sejumlah orang tua, dispora disebut menegaskan bahwa Popda merupakan wadah bagi pelajar Kota Solo yang memenuhi ketentuan.
Baca Juga: Rekap Pemain Baru Persis Solo di Bursa Transfer Liga 2: Eks Persija Jakarta dan Tornado FC Gabung
Penjelasan tersebut kemudian menjadi dasar bagi para orang tua untuk kembali mempertanyakan mekanisme seleksi yang diterapkan.
Sebab, sejumlah atlet yang telah diajukan sejak Mei akhirnya tidak dapat mengikuti Popda tingkat provinsi setelah proses penetapan atlet selesai.
Orang tua berharap persoalan tersebut tidak hanya berhenti pada polemik keberangkatan tahun ini.
Mereka meminta adanya pembenahan mekanisme seleksi dan pola komunikasi agar pengajuan maupun seleksi atlet pada Popda berikutnya dapat dilakukan secara lebih terbuka.
Dalam pertemuan terakhir, orang tua menyebut Ketua Pengkot Wushu Kota Solo juga menyampaikan komitmen untuk membuat pakta integritas atau surat permohonan maaf.
Komitmen tersebut diharapkan menjadi awal evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada pelaksanaan Popda di tahun-tahun mendatang.
Akui Lalai Koordinasi, Pengkot Minta Maaf
Pengurus Kota (Pengkot) Wushu Indonesia Solo akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait polemik keikutsertaan atlet pelajar dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, lewat surat resminya.
Permohonan maaf tersebut disampaikan menyusul adanya sejumlah atlet pelajar Kota Surakarta yang kehilangan kesempatan mengikuti Popda Provinsi Jawa Tengah karena tidak dilibatkan dalam proses seleksi cabang olahraga wushu sejak awal.
Baca Juga: Persis Solo Resmi Datangkan Wbeymar Angulo, Teka-Teki Nasib Tiga Pemain Asing Mengemuka
Dalam surat bernomor 010/PK-WSKA/VIII/2026 tertanggal 31 Agustus 2026, Pengkot Wushu Indonesia Surakarta mengakui adanya kekurangan dalam komunikasi dan koordinasi sejak proses pengajuan nama atlet pada Mei 2026.
Pengkot Wushu Surakarta menyatakan, mekanisme dan komunikasi terkait keikutsertaan atlet pelajar dalam ajang POPDA harus mengedepankan hak seluruh pelajar Kota Solo. Hal tersebut juga sesuai dengan arahan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Solo.
“Tidak adanya komunikasi yang baik dari kami sejak pengajuan nama atlet pada Mei 2026 mengenai koordinasi event POPDA Provinsi 2026 menyebabkan beberapa atlet pelajar Kota Surakarta kehilangan haknya untuk mengikuti POPDA Provinsi karena sejak awal tidak dilibatkan dalam proses seleksi cabang olahraga wushu,” demikian isi permohonan maaf Pengkot Wushu Solo.
Baca Juga: Rekap Pemain Baru Persiraja Banda Aceh di Bursa Transfer Liga 2: Eks Persis Solo dan Borneo Gabung
Dalam surat tersebut, Pengkot Wushu Solo juga mengakui kesalahan kepada sejumlah pihak yang merasa dirugikan atas persoalan tersebut, khususnya atlet pelajar dan orang tua atlet terkait.
Mereka pun berjanji melakukan evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada pelaksanaan seleksi maupun keikutsertaan atlet dalam ajang olahraga pelajar di masa mendatang.
Pengkot Wushu Surakarta juga menyampaikan apresiasi kepada Dispora Kota Solo yang telah memediasi komunikasi antara Ketua Pengkot Wushu Solo dengan para orang tua atlet pelajar terkait.
Surat permohonan maaf tersebut ditujukan kepada Wali Kota Solo, Dispora Kota Solo, KONI Kota Solo, kepala sekolah SD, SMP, dan SMA terkait, serta para orang tua atlet pelajar.
Permohonan maaf tersebut sekaligus menjadi pengakuan Pengkot Wushu Solo atas persoalan komunikasi dan koordinasi dalam proses seleksi atlet menuju POPDA Provinsi Jawa Tengah 2026. Ke depan, mereka berkomitmen untuk memperbaiki mekanisme seleksi agar seluruh atlet pelajar memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti proses dan memperjuangkan haknya di ajang olahraga pelajar. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy