RADARSOLO.COM – Pengurus Kota (Pengkot) Wushu Indonesia Solo akhirnya buka suara terkait polemik mekanisme seleksi atlet menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026. Pengkot mengakui adanya persoalan komunikasi dalam proses persiapan kontingen yang berujung pada tidak terakomodasinya sejumlah atlet pelajar.
Ketua Pengkot Wushu Indonesia Solo Moeljoto Soetikno mengatakan, persoalan tersebut bermula dari koordinasi internal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengkot sebelumnya telah membentuk tim untuk melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait, tetapi pelaksanaannya tidak berlangsung lancar.
“Jadi intinya kemarin memang kita kan dari Pengkot bikin tim untuk komunikasi, tapi kan tidak berjalan dengan baik. Ternyata termasuk pengumpulan sertifikat dan sebagainya itu kan tidak bisa berjalan dengan lancar karena komunikasi,” ujar Moeljoto saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Solo, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, kendala komunikasi tersebut kemudian menjadi persoalan yang harus segera diselesaikan. Setelah dilakukan pertemuan dengan pihak terkait yang difasilitasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Solo, Pengkot Wushu akhirnya mengakui adanya kekeliruan dalam proses tersebut.
“Makanya kemarin dengan difasilitasi dispora saya juga sudah ketemu dengan mereka. Ya sudah, artinya bahwa ini juga merupakan bisa dikatakan kesalahan dari Pengkot Wushu,” ujarnya.
Baca Juga: PSSI Bocorkan Kemana Arkhan Kaka Usai Hengkang dari Persis Solo
Pengakuan tersebut tidak berhenti pada pertemuan. Pengkot Wushu Surakarta juga menerbitkan surat resmi bernomor 010/PK-WSKA/VIII/2026 tertanggal 31 Agustus 2026 dengan perihal permohonan maaf.
Dalam surat tersebut, Pengkot Wushu menyatakan permohonan maaf atas tidak terjalinnya komunikasi yang baik sejak pengajuan nama atlet pada Mei 2026. Kondisi itu disebut berdampak pada sejumlah atlet pelajar yang tidak mendapatkan kesempatan mengikuti Popda Jateng karena sejak awal tidak dilibatkan dalam proses seleksi.
Moeljoto membenarkan bahwa surat tersebut merupakan bentuk tanggung jawab Pengkot atas persoalan yang terjadi. Ia menyebut tidak ada alasan untuk memperpanjang polemik setelah persoalan dikomunikasikan bersama pihak-pihak terkait.
“Ya surat menyatakan Pengkot Wushu merasa bersalah, gitu aja. Sudah kemarin sudah masuk ke dispora, sudah masuk ke Mas Wali, semuanya sudah beres, Mas,” jelasnya.
Surat itu sekaligus menjadi komitmen Pengkot Wushu untuk memperbaiki komunikasi dalam pelaksanaan agenda olahraga pelajar berikutnya. Pengkot menyatakan kejadian serupa tidak boleh kembali terulang, terutama dalam hal koordinasi dengan atlet, orang tua, maupun pihak sekolah.
Bagi Moeljoto, persoalan yang terjadi menjadi bahan evaluasi bagi organisasi. Ia berharap komunikasi yang lebih baik dapat dibangun sehingga tidak kembali muncul persoalan serupa ketika proses persiapan atlet menghadapi kejuaraan berlangsung.
“Sudah nggak ada apa-apa. Semoga ke depannya tidak akan terjadi lagi. Kan kemarin kan komunikasi saja intinya,” tegasnya.
Pengkot Wushu Solo dalam suratnya juga menyampaikan apresiasi kepada Dispora Kota Solo yang telah memediasi pertemuan antara pengurus dengan orang tua atlet pelajar terkait. Langkah tersebut menjadi jalan untuk mempertemukan kedua pihak setelah sebelumnya terjadi kendala komunikasi.
Surat permohonan maaf tersebut turut ditujukan kepada Wali Kota Solo, Dispora Kota Solo, KONI Kota Solo, kepala sekolah terkait, serta orang tua atlet pelajar. Pengkot juga menyatakan mengakui kesalahan kepada pihak-pihak yang dirugikan dan berjanji melakukan perbaikan ke depan.
Dengan adanya pengakuan tersebut, Moeljoto menilai persoalan yang muncul dalam persiapan Popda Jateng 2026 telah diselesaikan melalui jalur komunikasi. Pengkot Wushu kini diharapkan dapat membenahi pola koordinasi agar proses pembinaan dan pemberangkatan atlet pelajar berikutnya berjalan lebih terbuka dan tidak menimbulkan persoalan serupa. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy