RADARSOLO.COM – Permainan domino selama ini kerap dikaitkan dengan aktivitas perjudian. Namun, Pengurus Cabang Olahraga Domino Indonesia (ORADO) Kota Solo ingin mengubah pandangan tersebut. Domino kini didorong menjadi olahraga yang memiliki jalur pembinaan dan mampu melahirkan atlet berprestasi.
Upaya mengenalkan wajah baru olahraga domino itu dilakukan ORADO Solo melalui sosialisasi di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (6/9). Masyarakat dari berbagai kalangan diajak mengenal domino sebagai permainan yang mengandalkan strategi dan kemampuan berpikir.
Ketua Pengcab ORADO Kota Solo Bhanad Shofa Kurniawan mengatakan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan olahraga domino secara lebih luas. Terlebih, domino kini telah resmi berada di bawah naungan KONI.
“Secara resmi pada 23 Mei, olahraga domino ini sudah disahkan oleh KONI. Dan nanti di PON tahun ini, ini menjadi salah satu pertandingan ekshibisi. Harapannya pada saat 2032 nanti, ORADO ini menjadi salah satu cabang olahraga yang diperlombakan dan dipertandingkan,” terang Bhanad kepada Jawa Pos Radar Solo di sela-sela sosialisasi.
Baca Juga: Boccia Indonesia Fokus Nagoya, Mentalitas Atlet Jadi Pekerjaan Rumah
Pengakuan tersebut menjadi pijakan bagi ORADO Solo untuk mulai membangun pembinaan. Tidak hanya memperkenalkan permainan domino, organisasi tersebut juga ingin membuka jalan bagi masyarakat yang tertarik menekuninya sebagai olahraga kompetitif.
Sosialisasi di ruang publik pun sengaja dipilih untuk menjangkau masyarakat dari berbagai kelompok. Generasi Z dan milenial menjadi salah satu sasaran utama karena ORADO ingin menarik minat generasi muda untuk mengenal olahraga tersebut.
Menurut Bhanad, pekerjaan terbesar yang dihadapi saat ini adalah mengubah stigma masyarakat terhadap permainan domino. Sebab, tidak sedikit yang masih mengaitkannya dengan perjudian.
“Teman-teman warga masyarakat itu memang harus betul-betul kami biasakan melihat olahraga ini bukan suatu bentuk perjudian, akan tetapi olahraga yang nantinya bisa melahirkan atlet-atlet di Kota Surakarta,” tegasnya.
Oleh sebab itu, ORADO memilih mendekatkan olahraga domino kepada masyarakat secara langsung. Warga tidak hanya diperkenalkan dengan organisasi tersebut, tetapi juga diberi kesempatan untuk melihat dan mencoba permainan domino dalam konteks olahraga.
Respons masyarakat pun mulai terlihat. Bhanad mengatakan, media sosial ORADO Solo mendapat cukup banyak respons dari warga yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai olahraga domino.
“Karena kita membuat portal media sosial kami, ORADO Solo, itu sudah banyak sekali masyarakat yang direct message maupun komen terkait dengan konten-konten ORADO untuk dia bisa join sebagai anggota ORADO dan juga sebagai atlet ORADO,” ungkapnya.
Antusiasme itu menjadi modal awal bagi ORADO Solo untuk menjaring calon atlet. Kesempatan terbuka tidak hanya bagi mereka yang sudah terbiasa bermain domino, tetapi juga masyarakat yang ingin mengenalnya lebih jauh sebagai olahraga kompetitif.
Peluang pengembangan olahraga domino di Solo pun dinilai cukup terbuka. Apalagi, ORADO mulai melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam membangun organisasi dan ekosistem pembinaan.
Ke depan, ORADO Solo juga akan menyiapkan sejumlah agenda kompetisi sebagai bagian dari pengembangan olahraga domino. Kompetisi diharapkan menjadi wadah bagi para pemain untuk mengasah kemampuan sekaligus memperluas basis calon atlet.
Bagi ORADO Solo, upaya tersebut tidak semata-mata untuk menghilangkan stigma negatif yang selama ini melekat pada domino.
Lebih dari itu, organisasi tersebut ingin menjadikan olahraga domino sebagai salah satu jalan untuk mengukir prestasi bagi Kota Bengawan. “Komitmen kami adalah bisa membanggakan dan mengharumkan nama Kota Surakarta dengan prestasi olahraga domino,” pungkas Bhanad. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy