Raih Sembilan Medali, Gulat Solo Masih Gagal Capai Target Popda Jateng 2026

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 22:05 WIB

Pertandingan gulat di ajang Popda Jateng 2026. (Dok. PGSI Solo)

Pertandingan gulat di ajang Popda Jateng 2026. (Dok. PGSI Solo)

RADARSOLO.COM – Koleksi sembilan medali belum cukup mengantarkan cabang olahraga gulat Kota Surakarta bersaing di papan atas Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026. Tim gulat Solo harus puas menempati peringkat kelima dalam persaingan antardaerah.

Dari 18 atlet yang diturunkan, sembilan di antaranya berhasil membawa pulang medali. Koleksi tersebut terdiri atas dua medali emas, satu perak, dan enam perunggu.

Hasil itu memang mampu memenuhi target minimal internal Pengcab Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Surakarta. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan harapan awal untuk bisa bersaing lebih tinggi dalam klasemen perolehan medali.

Baca Juga: Kronologi Lengkap 5 Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda saat Meliput Gunung Anak Krakatau, Ini Identitasnya

Ketua Pengcab PGSI Surakarta, Catur Bambang Priadi, menilai salah satu kendala yang membuat Solo kesulitan mengejar daerah lain adalah perbedaan sistem pembinaan atlet. Sejumlah daerah peserta Popda telah memiliki Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang memberikan pembinaan lebih intensif bagi atlet gulat.

“Pencapaiannya sebenarnya tidak memenuhi target. Hal ini disebabkan Solo kalah dengan daerah lain yang rata-rata ada SKO-nya untuk cabor gulat. Kalau Solo sendiri belum ada SKO-nya. Jadi, kita mengejarnya agak kesulitan untuk mengangkat itu,” ungkap Catur kepada Jawa Pos Radar Solo melalui sambungan telepon, Selasa (8/9/2026) siang.

Keberadaan SKO membuat atlet dari sejumlah daerah memiliki waktu latihan yang lebih panjang dan terstruktur. Mereka tidak hanya berlatih setelah kegiatan sekolah, tetapi menjalani program latihan rutin pada pagi dan sore hari.

Baca Juga: ORADO Surakarta Rangkul Berbagai Kalangan Bangun Ekosistem Olahraga Domino

Kondisi tersebut berbeda dengan pembinaan atlet gulat Solo. Selama ini, sebagian besar latihan dilakukan pada sore hari. PGSI Surakarta memang sempat meningkatkan intensitas latihan menjelang Popda dengan menambah sesi pagi. Namun, persiapan tersebut belum mampu menyamai pola pembinaan berkelanjutan yang dijalankan melalui SKO.

“Kalau atlet SKO itu pagi-sore latihan, kita latihannya hanya sore. Sebenarnya sudah dipacu pagi-sore kemarin, tetapi di sana kan kontinu kalau SKO itu,” lanjutnya.

Meski menghadapi persaingan dari daerah-daerah dengan sistem pembinaan yang lebih intensif, Solo tetap mampu mengamankan dua medali emas. Aiko Liem Saputro dari SMP Negeri 1 Surakarta menjadi juara pada kelas putri 42 kilogram.

Sementara itu, Arba’ Aksa Bastian dari SMANKO Jateng menyumbangkan emas pada kelas putra 82 kilogram.

Satu medali perak diraih Niko Langeng Budiyono dari kelas putra 60 kilogram gaya bebas. Adapun enam medali perunggu masing-masing dipersembahkan Ananda Jovita, Mohammad Devon, Michael Fillio Argani P.F., Ahmad Rizky Revaldi, Damai Lawu Wisesha, dan Naila Storm.

Ananda meraih perunggu di kelas putri 53 kilogram gaya bebas. Devon tampil pada kelas putra 66 kilogram gaya bebas, sedangkan Michael turun di kelas putra 44 kilogram gaya bebas.

Sementara itu, Rizky meraih perunggu pada kelas putra 55 kilogram gaya bebas, Damai di kelas putra 45 kilogram gaya bebas, serta Naila pada kelas putri 33 kilogram.

Meski belum mampu memenuhi target perolehan medali secara keseluruhan, Catur menyebut hasil tersebut telah memenuhi target minimal yang dipatok PGSI Surakarta. Dari 18 atlet yang diberangkatkan, pihaknya menargetkan setidaknya separuh atlet mampu naik podium.

“Dari hasil Popda ini, target Solo itu 50 persen dari 18 atlet yang kami mainkan. Kami sudah memenuhi target karena separuh atlet mendapatkan medali,” katanya.

Catur juga menegaskan persoalan pendanaan bukan menjadi penyebab utama belum maksimalnya pencapaian gulat Solo. Menurut dia, dukungan pembiayaan dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Surakarta cukup membantu kebutuhan atlet selama mengikuti Popda.

Bahkan, Solo disebut memiliki dukungan pembiayaan yang lebih baik dibanding sejumlah daerah lain yang masih mengandalkan biaya mandiri untuk kebutuhan tertentu.

“Solo itu paling bagus di antara daerah lainnya. Kalau yang lain rata-rata ada biaya mandiri, Solo tidak. Kami dibiayai Dispora dan untuk kebutuhan harian juga cukup,” ungkapnya.

Hasil Popda Jateng 2026 kini menjadi bahan evaluasi bagi PGSI Surakarta untuk menatap Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026. Catur berharap pengalaman bertanding yang diperoleh para atlet pelajar dapat memberikan manfaat dalam persiapan menuju ajang berikutnya.

Menurutnya, atlet-atlet pelajar tersebut dapat menjadi partner latihan dan sparring bagi atlet senior yang tengah mempersiapkan diri menuju Porprov. Kehadiran mereka diharapkan mampu meningkatkan persaingan sekaligus semangat latihan.

“Ini bisa untuk menunjang. Yang pelajar ini bisa untuk sparring-sparring untuk Porprov-nya. Jadi, yang senior juga menjadi tertantang dan atletnya lebih semangat lagi,” pungkasnya.

Pada perolehan akhir medali Popda Jateng 2026, Kota Surakarta finis sebagai juara umum kedua dengan koleksi 56 medali emas, 41 perak, dan 62 perunggu. Posisi teratas ditempati Kota Semarang, sedangkan Kota Salatiga berada di peringkat ketiga. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
Emas popda cabor gulat