Di Balik 56 Emas Solo di Popda Jateng 2026, Ada Pengorbanan yang Tak Terlihat

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 19:31 WIB
Tim Bola Basket Kota Solo sukses raih emas di ajang Popda Jateng 2026. (Dok. Perbasi Solo)
Tim Bola Basket Kota Solo sukses raih emas di ajang Popda Jateng 2026. (Dok. Perbasi Solo)

RADARSOLO.COM – Medali yang dibawa pulang atlet Kota Surakarta dari Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026 tidak lahir secara instan. Di balik podium dan raihan prestasi, ada latihan yang berlangsung rutin, perlengkapan yang harus dipenuhi, hingga dukungan keluarga yang menjadi penopang perjalanan atlet.

Hal itu salah satunya terlihat pada cabang olahraga (cabor) panahan. Surakarta menjadi juara umum panahan Popda Jateng 2026 dengan koleksi 11 medali emas, tiga perak, dan satu perunggu. Namun, untuk mencapai prestasi tersebut, kebutuhan atlet tidak berhenti pada program latihan.

Pelatih Perpani Solo Wawan Sektiawan mengatakan peran orang tua sangat besar dalam mendukung perjalanan atlet. Terlebih, panahan membutuhkan perlengkapan khusus dengan harga yang tidak murah. Bahkan, komponen berukuran kecil pun bisa memiliki nilai cukup tinggi.

“Orang tua itu sangat berperan dalam mendukung anak-anak. Karena peralatan panahan ini memang tidak murah. Kadang komponen yang ukurannya hanya sebesar biji kacang saja harganya bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Jadi dukungan orang tua memang sangat dibutuhkan,” ujar Wawan.

Baca Juga: Ini Ucapan Sho Yamamoto Usai Pastikan Diri Hengkang dari Persis Solo dan Gabung Sabah FC

Kebutuhan perlengkapan tersebut menjadi bagian dari keseharian atlet. Peralatan harus menyesuaikan perkembangan kemampuan dan kebutuhan masing-masing pemanah. Seiring meningkatnya kemampuan atlet, perlengkapan yang digunakan juga dituntut mampu menunjang performa saat latihan maupun pertandingan.

Karena itu, keberhasilan atlet tidak bisa hanya dilihat dari angka pada klasemen atau jumlah medali. Ada proses panjang yang melibatkan keluarga. Orang tua tidak sekadar mengantar anak menuju tempat latihan, tetapi juga ikut memastikan kebutuhan penunjang latihan tetap terpenuhi.

Kebutuhan yang lebih kompleks terlihat pada cabang olahraga equestrian dan horseback archery. Meski belum berpartisipasi dalam Popda maupun Porprov, pembinaan kedua cabor tersebut di Solo terus berkembang. Pelatih Solo Equestrian Center (SEC) sekaligus atlet horseback archery Muhammad Hasan Saifullah atau Saiful menyebut hampir seluruh atlet equestrian di Solo memiliki kuda sendiri.

Baca Juga: Fasilitas Panahan Solo Belum Ideal, Anak Panah Rentan Rusak Saat Latihan

Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembinaan jauh lebih kompleks dibandingkan olahraga yang hanya mengandalkan perlengkapan pribadi. Selain menjaga kondisi atlet, pemilik juga harus memastikan kuda dalam kondisi prima untuk menunjang latihan.

“Kalau untuk atlet equestrian di Solo hampir semuanya memang punya kuda sendiri. Untuk biaya perawatan dan penitipan di sini, kuda jenis G crossbreed sekitar Rp6,5 juta per bulan. Kalau WB Warmblood impor ras murni sekitar Rp7,5 juta per bulan,” kata Saiful kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (8/9/2026).

Biaya tersebut belum mencakup seluruh kebutuhan. Nominal Rp6,5 juta hingga Rp7,5 juta per bulan sudah meliputi kandang, perawatan dasar, latihan kuda, latihan atlet, pakan, hingga rumput. Sementara kebutuhan vitamin, dokter hewan, suplemen, dan penanganan khusus masih harus disiapkan di luar biaya tersebut.

“Jadi Rp6,5 juta atau Rp7,5 juta itu sudah termasuk stable, training kuda, training atlet, pakan dan rumput. Tetapi untuk vitamin, dokter hewan, suplemen, dan kebutuhan lain masih di luar. Kalau ada kondisi khusus pada kuda tentu biayanya juga bisa bertambah,” jelasnya.

Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan olahraga prestasi memiliki tantangan yang berbeda dengan aktivitas olahraga masyarakat. Atlet harus menjaga intensitas latihan sekaligus memastikan perlengkapan yang digunakan tetap dalam kondisi terbaik. Pada equestrian, kondisi kuda bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persiapan atlet.

Meski membutuhkan biaya besar, ekosistem olahraga berkuda di Solo menunjukkan perkembangan. Saiful menyebut jumlah atlet yang berlatih di Solo terus bertambah. Jika sebelumnya hanya terdapat dua atlet dari satu keluarga, kini jumlahnya telah berkembang menjadi lebih dari 10 atlet equestrian di luar atlet yang tercatat sebagai binaan KONI.

Baca Juga: Saddil Tersingkir, Eks Persis Solo Justru Langsung Jadi Starter Persib Bandung

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan semangat Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 yang mendorong masyarakat semakin aktif dan bugar. Kepala Dispora Kota Solo Rini Kusumandari mengatakan pembangunan ekosistem olahraga membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak.

Menurut dia, pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri dalam membangun olahraga, terutama ketika aktivitas masyarakat mulai diarahkan menuju olahraga prestasi.

“Fokus utamanya adalah membangun kebugaran olahraga masyarakat terlebih dahulu, baru kemudian kita menjaring bibit-bibit unggul untuk olahraga prestasi. Dalam penyelenggaraan event olahraga, pengurus cabor tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga dapat menggandeng pihak swasta,” ujar Rini.

Keterlibatan pihak lain menjadi penting karena kebutuhan atlet tidak selalu berhenti pada fasilitas yang disediakan pemerintah. Dukungan keluarga menjadi contoh paling dekat. Pada panahan, orang tua ikut menopang kebutuhan perlengkapan. Sementara pada equestrian, keluarga atau pemilik atlet harus menanggung biaya perawatan kuda secara rutin agar proses latihan tetap berjalan.

Baca Juga: Sebaran SPPG di Wonogiri Belum Merata, Ada Dapur yang Sediakan 3.800 Porsi MBG Setiap Hari

Bagi atlet pelajar, pengorbanan tersebut juga dapat menjadi investasi jangka panjang. Prestasi di bidang olahraga dapat membuka peluang untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi. Sejumlah atlet bahkan telah memanfaatkan capaian tersebut sebagai modal untuk masuk perguruan tinggi.

Karena itu, peringatan Haornas tidak sebatas ajakan untuk bergerak dan berolahraga. Setelah minat masyarakat tumbuh, ada ekosistem yang harus dibangun agar potensi tersebut berkembang menjadi prestasi.

Ketika dari aktivitas olahraga lahir atlet potensial, dukungan berkelanjutan dibutuhkan dari berbagai sisi, mulai keluarga, klub, pemerintah, hingga pihak swasta. Sebab, medali yang akhirnya terlihat di podium hanyalah hasil akhir dari proses panjang yang berlangsung jauh sebelum pertandingan dimulai. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
atlet popda Pembinaan