RADARSOLO.COM – Raihan juara umum II Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pembinaan olahraga di Kota Surakarta. Di balik 56 medali emas yang berhasil dikumpulkan, masih terdapat sejumlah cabang olahraga yang harus mengembangkan atlet dengan dukungan serta jalur pembinaan yang terbatas.
Perbedaan tersebut terlihat dari pola pembinaan yang diterapkan masing-masing cabang olahraga. Sebagian cabor telah memiliki akses melalui Sekolah Khusus Olahraga (SKO) maupun Kelas Khusus Olahraga (KKO). Namun, jalur serupa belum tersedia untuk semua cabor.
Gulat menjadi salah satu cabor yang menghadapi kondisi tersebut. Ketua Pengcab PGSI Surakarta Catur Bambang Priadi mengatakan, hingga kini belum ada SKO maupun KKO yang secara khusus menjadi jalur pembinaan atlet gulat di Kota Solo.
“Cabor lain itu ada SKO, ada juga KKO. Kalau gulat sendiri belum ada SKO maupun KKO. Jadi selama ini kami seperti tapa-tapa sendiri. Harapannya ke depan ada perhatian khusus dari Dispora, mungkin bisa melalui KKO atau SKO untuk gulat,” kata Catur saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo via telepon, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Aroma Persib Bandung Kental di PSGC Ciamis, Jadi Tim Satelit Maung Bandung di Liga 2
Ketiadaan jalur pembinaan khusus tersebut berdampak pada pola latihan atlet. Mereka yang masuk dalam program sekolah olahraga memiliki kesempatan berlatih lebih banyak karena jadwal latihan dapat dilakukan secara rutin.
Sementara itu, atlet gulat harus menyesuaikan latihan dengan kegiatan sekolah dan aktivitas lainnya.
“Kalau atlet SKO itu pagi dan sore latihan. Kami kebanyakan hanya sore. Kemarin memang sempat kami pacu pagi-sore untuk persiapan Popda, tetapi kalau di SKO itu kan latihannya kontinu. Jadi kami cukup kesulitan untuk mengejarnya,” ujarnya.
Baca Juga: Raih Sembilan Medali, Gulat Solo Masih Gagal Capai Target Popda Jateng 2026
Meski menghadapi keterbatasan, gulat tetap mampu memberikan kontribusi bagi kontingen Surakarta di Popda Jateng 2026. Dari 18 atlet yang diturunkan, gulat menyumbangkan sembilan medali, terdiri atas dua emas, satu perak, dan enam perunggu.
Namun, raihan tersebut baru menempatkan gulat di posisi kelima dalam klasifikasi perolehan medali cabor. Hasil itu sekaligus menjadi gambaran bahwa potensi atlet masih bisa dikembangkan apabila mendapat dukungan pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Catur yang juga merupakan pelatih gulat Solo berharap perhatian terhadap pembinaan olahraga tidak hanya diberikan kepada cabor yang sudah memiliki sistem kuat. Menurut dia, setiap cabang perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk membangun dan meningkatkan kualitas atlet.
“Solo ini kota budaya sekaligus kota olahraga. Harapannya perhatian terhadap olahraga bisa menyeluruh, bukan hanya beberapa cabor saja. Kalau memang ada SKO, ke depan kalau bisa semua cabor mendapatkan ruang pembinaan yang sesuai. Jangan sampai ada cabor yang sudah punya sistem, sementara yang lain masih berjalan sendiri,” tegasnya.
Bagi gulat Solo, keberadaan SKO atau KKO bukan sekadar soal fasilitas latihan. Jalur pembinaan khusus dinilai dapat memberikan ruang bagi atlet untuk berlatih lebih konsisten tanpa harus mengorbankan kewajiban pendidikan.
Baca Juga: Minim Anggaran Tak Surutkan Target, Gulat Solo Bidik Dua Emas Porprov 2026
Di tengah ambisi Surakarta meningkatkan prestasi olahraga pelajar, persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.
Sebab, mempertahankan posisi di papan atas Popda tidak hanya membutuhkan atlet potensial, tetapi juga sistem pembinaan yang mampu mengantarkan mereka berkembang secara berkelanjutan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy