56 Emas Dibawa Pulang, Surakarta Tetap Gagal Jadi Juara Umum Popda Jateng 2026

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:06 WIB
Atlet Balap Sepeda Kota Solo raih emas di ajang Popda Jateng 2026.
Atlet Balap Sepeda Kota Solo raih emas di ajang Popda Jateng 2026.

RADARSOLO.COM – Kontingen Kota Solo harus puas menempati posisi runner-up pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026.

Raihan tersebut menjadi catatan tersendiri di tengah momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang diperingati hari ini, setelah rangkaian Popda resmi berakhir pada 6 September lalu.

Kota Solo mengoleksi 56 medali emas, 41 perak, dan 62 perunggu. 

Dengan total 159 medali, Kota Bengawan finis di posisi kedua klasemen akhir.

Sementara itu, gelar juara umum kembali menjadi milik Kota Semarang yang tampil dominan dengan 99 emas, 58 perak, dan 58 perunggu.

Baca Juga: Di Balik 56 Emas Solo di Popda Jateng 2026, Ada Pengorbanan yang Tak Terlihat

Kota Salatiga melengkapi posisi tiga besar dengan raihan 30 emas, 19 perak, dan 27 perunggu.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Solo Rini Kusumandari mengakui hasil tersebut belum sepenuhnya sesuai target. 

Sejak awal, kontingen Surakarta membidik posisi juara umum. Namun, dominasi Semarang membuat target tersebut belum berhasil diwujudkan pada Popda tahun ini.

“Kalau targetnya, tentu kita ingin menjadi juara umum. Semoga tahun depan kita bisa meningkatkan prestasi dan menjadi juara umum. Kemarin para atlet sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi persaingan dengan Kota Semarang memang cukup berat,” ujar Rini kepada Jawa Pos Radar Solo melalui telepon, Rabu (9/9/2026).

Meski gagal merebut posisi teratas, torehan 56 emas tetap menunjukkan kekuatan olahraga pelajar Kota Solo di tingkat Jawa Tengah. Hasil tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk melihat cabang olahraga yang mampu mempertahankan prestasi sekaligus sektor pembinaan yang masih perlu diperkuat.

Persaingan di papan atas juga menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah atlet yang dikirim. Sistem pembinaan, regenerasi, serta dukungan sarana latihan menjadi faktor penting untuk menjaga konsistensi prestasi dari satu Popda ke ajang berikutnya.

Hal itu penting mengingat Popda menjadi salah satu ajang untuk mengukur hasil pembinaan atlet usia pelajar. Para atlet yang tampil tidak hanya memburu medali, tetapi juga diproyeksikan menjadi bagian dari regenerasi olahraga prestasi Surakarta pada jenjang yang lebih tinggi.

Baca Juga: Raih Sembilan Medali, Gulat Solo Masih Gagal Capai Target Popda Jateng 2026

Rini menyebut pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menyediakan fasilitas latihan yang ideal bagi seluruh cabang olahraga.

Dari sekitar 62 cabor di Kota Solo, belum semuanya memiliki venue maupun pusat latihan sendiri. Pemenuhan sarana pun harus dilakukan secara bertahap sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing cabang.

“Memang banyak fasilitas cabang olahraga yang belum bisa kami penuhi secara maksimal, seperti menembak, panahan, dan gulat. Beberapa cabor spesifik tersebut memang belum memiliki tempat sendiri. Semoga ke depan, jika ada lahan yang bisa digunakan, kami dapat mewujudkannya,” jelasnya.

Baca Juga: Boyong 33 Medali di Popda Jateng 2026, Balap Sepeda Jadi Penyumbang Terbesar Kontingen Boyolali

Di sisi lain, capaian Popda 2026 menjadi pijakan untuk menghadapi agenda olahraga berikutnya. Sejumlah atlet pelajar yang baru saja bertanding masih akan melanjutkan perjuangan di level berbeda, termasuk mereka yang dipersiapkan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.

Bagi Dispora, evaluasi pasca-Popda tidak sekadar menghitung jumlah medali. Hasil pertandingan perlu diterjemahkan menjadi bahan evaluasi pembinaan, termasuk memastikan atlet berprestasi tetap mendapatkan ruang untuk berkembang setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang pelajar.

Momentum Haornas juga menjadi pengingat bahwa pembangunan olahraga tidak berhenti pada pencapaian di podium. Pemerintah berharap budaya olahraga dapat tumbuh lebih luas di tengah masyarakat sehingga proses pencarian dan pembinaan bibit atlet potensial bisa dimulai sejak level paling dasar.

“Fokus utamanya adalah membangun kebugaran olahraga masyarakat terlebih dahulu, baru kemudian kita menjaring bibit-bibit unggul untuk olahraga prestasi. Harapan kami, partisipasi dan keterlibatan masyarakat dapat terus meningkat,” tandas Rini.

Dengan finis di posisi kedua, Solo memang belum mampu mengakhiri dominasi Semarang pada Popda Jateng 2026. Namun, raihan 56 emas menunjukkan potensi besar atlet pelajar Kota Bengawan.

Pekerjaan berikutnya bukan hanya mengejar selisih medali dengan Semarang, tetapi memastikan prestasi tersebut ditopang sistem pembinaan, regenerasi, dan fasilitas yang mampu menjaga laju olahraga Surakarta dalam jangka panjang. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
atlet popda