RADARSOLO.COM – Panahan menjadi salah satu cabang olahraga (cabor) yang sukses mengantarkan Kota Surakarta memenuhi target prestasi pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026.
Tak hanya menyumbang medali, tim panahan Solo bahkan keluar sebagai juara umum dengan koleksi 11 emas, tiga perak, dan satu perunggu.
Capaian tersebut menjadi catatan positif bagi kontingen Surakarta yang finis sebagai juara umum II Popda Jateng 2026. Namun, di balik pesta medali tersebut, terselip pekerjaan rumah yang harus segera disiapkan.
Sebab, sebagian besar prestasi panahan Solo masih ditopang atlet jenjang SMA yang dalam waktu dekat bakal meninggalkan kelompok pelajar dan masuk ke level senior.
Baca Juga: Di Balik 56 Emas Solo di Popda Jateng 2026, Ada Pengorbanan yang Tak Terlihat
Pelatih Perpani Solo Wawan Sektiawan mengatakan atlet SMA memang menjadi salah satu kekuatan utama timnya pada Popda tahun ini. Hampir di setiap nomor yang diikuti, baik recurve, compound, maupun nasional, atlet Solo mampu bersaing dan membawa pulang medali.
“Kalau untuk SMA memang paling banyak menyumbang medali. Di recurve, nasional, maupun compound, sebagian besar atlet kita mendapatkan medali.
Hasilnya tentu sangat memuaskan. Tetapi setelah Popda ini kami tidak bisa berhenti karena masih ada Porprov yang waktunya juga sudah dekat,” ujar Wawan kepada Jawa Pos Radar Solo melalui telepon, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Ini Ucapan Sho Yamamoto Usai Pastikan Diri Hengkang dari Persis Solo dan Gabung Sabah FC
Berbeda dengan kelompok SMA, hasil yang diraih atlet jenjang SMP belum sepenuhnya merata. Solo masih mampu mengamankan medali dari nomor compound individu putra. Namun, pada nomor standard nasional dan recurve, belum ada tambahan medali seperti yang ditorehkan kelompok SMA.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pembinaan jangka panjang. Wawan tak ingin dominasi atlet SMA saat ini justru membuat prestasi panahan Solo menurun ketika para atlet tersebut menyelesaikan pendidikan dan naik ke level senior.
“Regenerasi ini memang harus kami pikirkan. Jangan sampai setelah anak-anak SMA lulus kemudian terputus. Kami harus membangun dari SD, SMP, sampai SMA. Jadi ketika atlet SMA naik ke senior, di bawahnya sudah ada atlet yang siap menggantikan,” tegasnya.
Menurut Wawan, pembinaan berjenjang menjadi kunci karena panahan bukan olahraga yang bisa menghasilkan prestasi secara instan. Atlet membutuhkan proses panjang melalui latihan, pengalaman bertanding, serta peningkatan kemampuan secara bertahap.
Salah satu upaya yang didorong adalah memperbanyak kegiatan ekstrakurikuler panahan di sekolah-sekolah di Kota Surakarta. Sekolah dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan olahraga tersebut kepada lebih banyak pelajar.
“Ekstrakurikuler di sekolah harus diperbanyak. Dari situ anak-anak yang memang tertarik dan punya potensi bisa kami arahkan ke klub. Jadi alurnya jelas, dari sekolah mengenal panahan, kemudian masuk klub dan mendapat pembinaan yang lebih serius,” kata Wawan.
Baca Juga: Aroma Persib Bandung Kental di PSGC Ciamis, Jadi Tim Satelit Maung Bandung di Liga 2
Dengan semakin banyak sekolah yang memiliki kegiatan panahan, basis atlet juga diharapkan semakin luas. Potensi atlet tidak hanya muncul dari kelompok yang selama ini menjadi tumpuan, tetapi dapat ditemukan dari berbagai wilayah di Surakarta.
Apalagi, hasil Popda 2026 menunjukkan bahwa Solo memiliki modal prestasi yang kuat. Koleksi 11 emas yang diraih tim panahan bahkan melampaui target awal sebanyak 10 emas.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang selama ini berjalan mampu melahirkan atlet kompetitif di tingkat Jawa Tengah. Tantangannya kini adalah menjaga agar prestasi tersebut tidak berhenti ketika generasi SMA memasuki level senior.
Wawan pun memastikan program latihan tetap berjalan. Sebab, sebagian atlet yang tampil di Popda juga diproyeksikan memperkuat Surakarta pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah. Jeda sekitar satu bulan membuat kondisi dan performa atlet harus dijaga agar tetap berada di level terbaik.
“Sekarang fokusnya menjaga performa. Anak-anak yang dari Popda juga ada yang akan turun di Porprov, sehingga kami harus mempertahankan kondisi mereka. Jangan sampai setelah mendapatkan hasil bagus di Popda justru performanya turun saat Porprov,” jelasnya.
Baca Juga: Raih Sembilan Medali, Gulat Solo Masih Gagal Capai Target Popda Jateng 2026
Keberhasilan panahan Solo di Popda Jateng 2026 pada akhirnya bukan sekadar tentang tambahan 11 emas bagi kontingen Surakarta. Prestasi tersebut menjadi modal sekaligus pengingat bahwa setiap keberhasilan harus diikuti dengan regenerasi.
Ketika para atlet SMA naik ke level senior, generasi di bawahnya harus sudah siap mengambil tongkat estafet. Momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga bukan hanya soal memenangkan pertandingan hari ini, tetapi juga memastikan munculnya juara-juara baru pada masa mendatang.
Panahan Solo telah membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan pelajar Jawa Tengah.
Tantangan berikutnya adalah menjaga agar 11 emas tersebut bukan sekadar cerita sukses satu generasi, melainkan awal dari tradisi prestasi yang terus berlanjut. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy