Solo Kehilangan Arena Pacuan Kuda, Atlet Horseback Archery Kini Latihan ke Klaten dan Jogja             

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 11:11 WIB
Atlet pacuan kuda Kota Solo tengah mengikuti kejuaraan.
Atlet pacuan kuda Kota Solo tengah mengikuti kejuaraan.

RADARSOLO.COM - Tentu pemuda zaman sekarang banyak yang tak percaya jika kawasan yang kini menjadi Stasiun Solo Balapan dan Stadion Manahan dulunya merupakan arena pacuan kuda. Padahal pada masanya, lokasi tersebut menjadi pusat aktivitas olahraga berkuda di Kota Solo. Setiap hari atlet berlatih di sana, sementara berbagai kejuaraan bergengsi juga rutin digelar.

Seiring perkembangan kota, jejak arena pacuan kuda itu perlahan menghilang. Lahan berubah fungsi, pusat olahraga berpindah, dan kini Solo tidak lagi memiliki arena pacuan kuda yang bisa digunakan untuk pembinaan atlet.

Baca Juga: Aroma Persib Bandung Kental di PSGC Ciamis, Jadi Tim Satelit Maung Bandung di Liga 2

Hilangnya venue tersebut kini menjadi salah satu tantangan dalam pembinaan cabang olahraga equestrian dan horseback archery di Kota Bengawan. Mencari lahan dengan ukuran dan karakteristik yang sesuai bukan perkara mudah. Keterbatasan ruang di Kota Solo membuat kebutuhan venue olahraga harus berbenturan dengan berbagai kepentingan pembangunan lainnya.

Akibatnya, fasilitas yang tersedia saat ini masih dimaksimalkan agar program latihan atlet tetap berjalan.

Pelatih Solo Equestrian Center (SEC) Muhammad Hasan Saifullah mengatakan pembinaan equestrian di Solo masih tertinggal dibandingkan kota-kota seperti Jakarta dan Bandung. Menurutnya, tantangan tidak hanya terletak pada jumlah atlet, tetapi juga keterbatasan fasilitas dan akses terhadap metode latihan yang lebih modern.

“Kalau untuk persiapan menuju level internasional, fasilitas dan perlengkapan latihan kami memang belum lengkap. Kami masih terus berkembang. Harapannya dukungan terhadap equestrian dan horseback archery bisa lebih optimal, terutama untuk peralatan dan pembinaan atlet,” ujarnya.

Baca Juga: Kejutan Liga 2! Tiga Klub Grup Timur Dipastikan Bermarkas di Solo, PSBS Biak Ikut Pilih Stadion Sriwedari

Saiful menjelaskan, nomor jumping masih membutuhkan penambahan sekaligus pembaruan perlengkapan latihan. Pole dan tiang penyangga rintangan menjadi beberapa peralatan yang harus dilengkapi, sementara sebagian perlengkapan yang digunakan saat ini sudah mengalami kerusakan sehingga perlu diganti agar kualitas latihan tetap terjaga.

Kondisi yang lebih berat dialami atlet horseback archery. Hingga kini Solo belum memiliki lintasan lurus khusus yang memenuhi standar untuk latihan rutin. Karena itu, para atlet harus berlatih di luar daerah, seperti Klaten, Yogyakarta, hingga Semarang, demi mendapatkan lintasan yang sesuai.

Baca Juga: Catat Jadwalnya! Ini Pertandingan Pekan Pertama Liga 2 Grup Barat: PSIS, Persiku Kudus dan PSMS Saling Jegal

Ironisnya, kota yang pernah menjadi salah satu pusat pacuan kuda di masa lalu kini justru belum memiliki arena untuk mendukung pembinaan olahraga berkuda. Para pelatih berharap ke depan Solo kembali memiliki fasilitas yang representatif agar pembinaan equestrian dan horseback archery dapat berkembang dan mampu bersaing di level nasional maupun internasional. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
atlet Kejuaraan pacuan kuda nasional