Mau Anak Jadi Atlet Panahan? Perpani Solo Ungkap Modal Utama, Bukan Sekadar Beli Busur

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 10:15 WIB
Atlet panahan Kota Solo tengah jalani latihan rutin. (Hernindya Jalu/Radar Solo)
Atlet panahan Kota Solo tengah jalani latihan rutin. (Hernindya Jalu/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Panahan kini tak lagi identik sebagai olahraga yang hanya digeluti atlet. Meningkatnya minat masyarakat terhadap jemparingan hingga horsebow turut membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengenal olahraga tersebut.

Namun, ketika aktivitas memanah mulai diarahkan ke jalur prestasi, ada sejumlah hal yang perlu dipersiapkan sejak awal. Bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental, waktu, hingga anggaran untuk menunjang proses latihan.

Ketua Harian Perpani Kota Surakarta Fitra Wibawa Kusuma mengatakan, keputusan mengarahkan anak ke jalur prestasi tidak bisa hanya didasarkan pada keinginan orang tua. Ketertarikan anak terhadap olahraga tersebut harus menjadi pijakan awal sebelum masuk ke pembinaan prestasi.

Baca Juga: Update Pemain Baru Kendal Tornado FC di Liga 3: Amunisi Baru dari Borneo FC dan Persija Jakarta Merapat

Menurutnya, anak perlu memiliki rasa suka terlebih dahulu terhadap panahan. Dari sana, orang tua dapat melihat apakah kegiatan tersebut cukup dijalani sebagai hobi atau memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi prestasi.

“Yang disiapkan cuma satu, suka dulu, hobi dulu, senang dulu, kemudian dari orang tua menyiapkan mental dulu dalam arti mental mau ke mana yang diarahkan. Kalau memang ke prestasi, ya siapkan mentalnya untuk jadi prestasi. Kalau memang untuk mengisi waktu saja, siapkan juga untuk mengisi waktu sehingga tidak bertolak belakang,” ujar Fitra kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Update Pemain Baru Kendal Tornado FC di Liga 3: Amunisi Baru dari Borneo FC dan Persija Jakarta Merapat

Kesiapan tersebut dinilai penting karena keinginan orang tua dan anak tidak selalu sejalan. Orang tua bisa saja berharap anak berprestasi, sedangkan anak hanya ingin menikmati kegiatan memanah. Jika tidak dibicarakan sejak awal, kondisi tersebut justru berpotensi membuat proses latihan menjadi beban.

“Jangan sampai orang tua itu salah memilih mau jalur betul-betul prestasi atau sekadar hobi mengisi waktu. Itu yang perlu disiapkan karena kalau cuma latihan sebentar saja untuk bisa langsung prestasi itu adalah mustahil,” tegasnya.

Baca Juga: 5 Prompt Tren Foto 80-an ChatGPT yang Viral di Instagram dan TikTok, Tinggal Copas Bikin Foto Jadul Realistis

Jika jalur prestasi sudah dipilih, dukungan orang tua juga tidak berhenti pada motivasi. Konsistensi latihan membutuhkan kesiapan waktu dan tenaga untuk mendampingi anak menjalani proses pembinaan.

Orang tua harus siap mengantar anak berlatih, berbagi waktu dengan aktivitas di klub, hingga menyediakan anggaran untuk kebutuhan peralatan.

“Kalau memang disiapkan sudah untuk prestasi, berarti mentalnya sudah siap dulu orang tua. Siap mengantar anaknya, siap berbagi waktu dengan klubnya, mengantar anak, kemudian siap juga berbagi bujet untuk pembelian peralatannya,” kata Fitra.

Peralatan Bisa Puluhan Juta

Persoalan anggaran menjadi bagian yang tak kalah penting. Peralatan panahan untuk kebutuhan prestasi memiliki rentang harga yang cukup lebar, bergantung pada jenis dan kelas perlengkapannya.

Fitra menyebut busur yang sudah dapat digunakan untuk mengikuti pertandingan dengan standar nasional bisa dimulai dari kisaran Rp 6 juta. Untuk perlengkapan kelas menengah, harganya dapat mencapai sekitar Rp 15 juta.

Baca Juga: Harga Xiaomi Redmi Note 17 Series dan Spesifikasinya: Gebrak Pasar Bawa Baterai 'Badak' 10.000 mAh

Sementara bagi atlet yang benar-benar disiapkan untuk menekuni jalur prestasi, kebutuhan peralatan bisa jauh lebih besar. Totalnya bahkan dapat mencapai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta.

Meski demikian, berkembangnya olahraga jemparingan dan horsebow justru dinilai menjadi pintu masuk yang baik bagi masyarakat untuk mengenal panahan. Mereka tidak harus langsung berorientasi pada prestasi ketika pertama kali tertarik dengan olahraga tersebut.

Baca Juga: iPhone 18 Rilis Tak Bikin Harga iPhone 17 dan 16 Turun: Apa Penyebabnya Kok Malah Makin Mahal?

Ketertarikan itu kemudian dapat berkembang menjadi minat untuk berlatih lebih serius. Ketika anak menunjukkan potensi dan orang tua melihat peluang prestasi, pembinaan dapat dilanjutkan melalui jalur yang tersedia di Perpani.

“Kalau program itu adalah salah satu simbiosis juga, bermuaranya juga di Perpani. Walaupun Jemparingan sudah punya induk organisasi sendiri, itu nanti akan bermuara kalau orang tua suka dulu kemudian menganjurkan anaknya untuk memanah, pasti akan dicari prestasi. Nah, prestasinya nanti akan ke Perpani juga,” jelasnya.

Fitra berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal panahan turut membuka peluang lahirnya atlet-atlet baru di Surakarta. Namun, mereka yang memilih jalur prestasi diharapkan benar-benar memiliki keseriusan sejak awal agar proses pembinaan berjalan maksimal.

“Karena di Surakarta ini prestasi olahraga dihargai dan untuk mendapatkan prestasi di panahan itu terbuka lebar. Kalau kita serius dan fokus, insyaallah prestasi pun akan dapat. Harapan kami yang masuk di sini betul-betul serius sehingga kami di Perpani membinanya pun lebih nyaman,” pungkas Fitra. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
atlet panahan