RADARSOLO.COM - Indonesia akhirnya kembali merasakan manisnya medali emas Asian Games dari nomor bulu tangkis beregu putra. Setelah terakhir kali menjadi juara pada 1998, Merah Putih harus menunggu 28 tahun sebelum kembali berdiri di podium tertinggi.
Penantian tersebut berakhir di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia sukses mengalahkan China dengan skor 3-2 pada final di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang, Kamis (24/9/2026).
Kemenangan ini sekaligus menjadi gelar keenam Indonesia di nomor beregu putra sepanjang sejarah Asian Games. Sebelumnya, Indonesia menjadi juara pada 1962, 1970, 1978, 1994, dan 1998.
Emas Pertama Diraih di Jakarta
Perjalanan Indonesia menjadi penguasa nomor beregu putra Asian Games bermula pada 1962. Saat itu, Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games dan tim Indonesia berhasil memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih medali emas.
Skuad Indonesia ketika itu diperkuat sejumlah nama seperti Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Liem Tjeng Kiang, Tutang Djamaluddin, dan Abdul Patah Unang.
Delapan tahun kemudian, Indonesia kembali menjadi juara. Pada Asian Games Bangkok 1970, generasi yang diperkuat Rudy Hartono, Indra Gunawan, Indratno, Mintarja, dan Muljadi berhasil mempertahankan emas untuk Merah Putih.
Dominasi tersebut berlanjut pada Asian Games 1978. Indonesia kembali meraih emas melalui generasi yang diisi sejumlah nama besar seperti Liem Swie King, Christian Hadinata, Ade Chandra, Rudy Heryanto, Hariamanto Kartono, dan Iie Sumirat.
Baca Juga: Jadwal Asian Games 2026 Hari Ini 25 September: Indonesia Lanjutkan Perburuan Medali
Kembali Juara Setelah 16 Tahun
Setelah emas pada 1978, Indonesia harus menunggu cukup lama untuk kembali menjadi juara.
Penantian tersebut berakhir pada Asian Games Hiroshima 1994. Saat itu, Indonesia memiliki sejumlah pemain papan atas seperti Rexy Mainaky, Ricky Subagja, Hariyanto Arbi, Ardy Wiranata, Joko Suprianto, dan Hermawan Susanto.
Kemenangan tersebut membuat Indonesia kembali menguasai nomor beregu putra setelah 16 tahun. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa empat tahun kemudian akan menjadi awal dari penantian panjang berikutnya.
1998 Jadi Emas Terakhir
Pada Asian Games Bangkok 1998, Indonesia kembali berhasil mencapai puncak. Menariknya, lawan yang dihadapi di final juga China.
Kala itu, Indonesia menang telak 4-0. Poin Indonesia disumbangkan Hendrawan, pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Taufik Hidayat, serta pasangan Candra Wijaya/Tony Gunawan.
Generasi tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang bulu tangkis Indonesia. Namun, setelah kemenangan pada 1998, medali emas beregu putra Asian Games seolah menjauh dari Merah Putih.
Indonesia memang masih beberapa kali berada dalam persaingan untuk meraih gelar. Namun, emas tidak kembali didapat hingga akhirnya penantian tersebut terputus pada 2026.
Baca Juga: Update Klasemen Medali Asian Games 2026, Ini Daftar Penyumbang Medali Indonesia hingga Hari Ini
28 Tahun Kemudian, Emas Kembali
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akhirnya menjadi titik balik. Indonesia kembali bertemu China di final, tetapi kali ini perjuangannya jauh lebih dramatis.
Indonesia sempat tertinggal 0-2 setelah Jonatan Christie kalah dari Shi Yuqi dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri takluk dari Liang Weikeng/Wang Chang.
Namun, Alwi Farhan membuka jalan comeback dengan mengalahkan Li Shifeng. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kemudian menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Medali emas akhirnya ditentukan pada partai kelima. Moh. Zaki Ubaidillah atau Ubed menghadapi Weng Hongyang dan berhasil menang 23-21, 21-13. Indonesia pun membalikkan keadaan menjadi 3-2.
Kemenangan tersebut membuat Indonesia resmi kembali menjadi juara setelah 28 tahun. Dari emas pertama di Jakarta pada 1962, kejayaan pada 1970, 1978, 1994, dan 1998, hingga akhirnya kembali berjaya pada 2026, perjalanan beregu putra Indonesia di Asian Games kini bertambah satu babak.
Dengan enam emas, Indonesia kini menjadi negara dengan koleksi gelar terbanyak kedua di nomor beregu putra bulu tangkis Asian Games, di bawah China yang telah mengoleksi tujuh emas.
Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum