RADARSOLO.COM – Tribun selatan Sritex Arena bergemuruh. Ratusan Sesaji, suporter SMAN 1 Surakarta, memadati tribun hingga nyaris tak menyisakan ruang kosong. Nyanyian dan sorakan terus menggema mengiringi perjuangan tim kebanggaan mereka di ajang Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Central Java-South.
Di tengah rapatnya barisan suporter, sebuah mahakarya visual perlahan terangkat. Bentangan tersebut kemudian membentang gagah, memenuhi pandangan penonton di arena. Sesosok prajurit Sparta dengan tubuh tegap dan jubah merah menjulang di depan gerbang benteng kerajaan berdinding kokoh. Dua pilar besar mengapit sisi kiri dan kanan.
Bentangan itu bukan sekadar kain bergambar. Sesaji menghadirkan koreografi 4D yang sarat makna. Di balik visual bertema kerajaan tersebut, tersimpan cerita tentang kekokohan, dedikasi, serta loyalitas yang dibangun selama berbulan-bulan di ruang kreasi.
Pilihan konsep kerajaan dengan sosok Sparta dan benteng kokoh bukan tanpa alasan. Bagi Sesaji, setiap elemen dalam koreografi tersebut merepresentasikan karakter dan semangat mereka dalam mendukung Smansa.
“Koreonya ini bercerita tentang Sparta, maskot dari SMA Negeri 1 Surakarta. Ada latar belakang benteng itu melambangkan kalau kita tetap kokoh dan tidak tergoyahkan oleh siapa pun. Kita tetap ada semangatnya dan selalu semangat mendukung Smansa,” tutur Cristian Reno, Capo Sesaji.
Baca Juga: Penantian Terbayar, SMA Warga Kembali ke Final Honda DBL with Kopi Good Day Central Java-South
Detail visual yang dihadirkan juga tergolong berani. Dimensi 4D membuat sosok Sparta seolah keluar dari latar benteng batu. Efek kedalaman semakin terasa ketika bentangan diterpa cahaya lampu arena.
Di balik kemegahan tersebut, terdapat proses panjang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selama tiga bulan, para siswa merancang, memotong, merangkai, hingga mengecat setiap bagian secara mandiri.
“Untuk proses pembuatannya memakan waktu sekitar tiga bulan. Kalau teknis pengerjaannya seperti apa, itu rahasia dapur kami—murni hasil kreativitas teman-teman sendiri secara internal,” tambah Cristian sembari tersenyum.
Namun, mahakarya tersebut tidak lantas membuat hari pertandingan berakhir sempurna bagi tim basket Smansa. SMAN 1 Surakarta harus mengakui keunggulan SMA Insan Cendekia Al-Mujtaba dengan skor 26-34.
Papan skor memang tidak berpihak kepada tim kebanggaan mereka. Akan tetapi, ketika peluit panjang berbunyi, tidak ada kepala yang tertunduk lesu di barisan Sesaji.
Nyanyian kebanggaan tetap bergema. Drum terus ditabuh. Bagi Sesaji, kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari pertandingan. Yang tidak boleh berubah adalah komitmen untuk terus mengawal dan memberikan dukungan kepada Smansa.
“Kita tetap mendukung penuh. Mau menang atau kalah, tidak membatasi semangat kita. Karena kita punya pegangan slogan ‘Respect First, Inspire Then’. Kami akan selalu ada di belakang Smansa,” tegas Cristian.
Slogan “Respect First, Inspire Then” yang diusung Sesaji menjadi gambaran kultur suporter di ajang DBL. Dukungan tidak berhenti ketika tim menang, tetapi juga tetap hadir ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.
Baca Juga: Insan Cendekia Siap Evaluasi Diri usai Takluk dari SMA Warga di DBL Solo 2026
Bagi Sesaji, koreografi 4D Sparta dan benteng kokoh itu akhirnya bukan hanya menjadi pertunjukan visual. Ada pesan yang ingin mereka sampaikan: tetap berdiri teguh, menghormati lawan, dan menjaga loyalitas kepada tim dalam kondisi apa pun.
Sebab, bagi mereka, skor pertandingan boleh berubah. Namun, semangat untuk berada di belakang Smansa tidak boleh runtuh.
Editor : Niko auglandy