RADARSOLO.COM – Persaingan AQUA DBL Dance 2026 Central Java-South semakin memanas. Lima tim dance terbaik atau Best Five resmi terpilih setelah menampilkan koreografi yang tidak hanya atraktif, tetapi juga sarat pesan tentang identitas Indonesia, kelestarian alam, sejarah budaya, hingga isu sosial dan kebangsaan di Sritex Arena Solo.
Mengusung tema besar “100% Indonesia”, kelima tim tersebut berhasil mencuri perhatian juri dan penonton melalui konsep pertunjukan yang kreatif dan penuh makna. Mereka adalah SMAN 1 Klaten, SMAN 7 Surakarta, SMA Regina Pacis Surakarta, SMAN 3 Surakarta, dan SMAN 2 Surakarta.
Baca Juga: Angkat Isu Kerusakan Laut, SMAN 1 Purworejo Hadirkan Sosok Nagagini di AQUA DBL Dance 2026 di Solo
Kelima tim tersebut masih memiliki kesempatan untuk kembali menunjukkan aksi terbaik mereka di sela kemeriahan Final Party. Penampilan itu sekaligus menjadi penentuan untuk memilih tiga tim terbaik atau Best Three AQUA DBL Dance 2026 Central Java-South seri Solo.
Berikut lima tim yang berhasil mengamankan posisi Best Five:
SMAN 1 Klaten
Tim DBL Sparkle dari SMAN 1 Klaten mengangkat perjalanan psikologis generasi muda dalam merefleksikan identitas bangsa.
Pertunjukan dibuka dengan nuansa budaya melalui kain batik, ornamen gunungan, serta lantunan lagu-lagu daerah. Namun, suasana tersebut kemudian diinterupsi dialog bernada kritik, “Bajunya kuno lagi.”
Konflik itu menjadi penghubung menuju koreografi modern yang lebih energik. Para dancer tampil dengan kostum sporty bermotif batik.
Pertunjukan kemudian ditutup dengan rekonsiliasi budaya. Kehadiran kendang dan angklung, permainan congklak dan layangan, serta delapan variasi kain batik menjadi simbol bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan akar tradisi.
SMAN 7 Surakarta
SMAN 7 Surakarta tampil atraktif melalui karya bertajuk “Dangdut Is The Music Of My Country”.
Pertunjukan tersebut mengisahkan perjalanan musik dangdut dari era Orkes Melayu hingga berkembang menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang mampu melintasi zaman.
Transformasi dangdut divisualisasikan melalui tiga sosok penyanyi dari lintas generasi. Yakni Rhoma Irama sebagai pelopor pada era 1970-an, Rita Sugiarto yang menghadirkan warna baru, serta King Nassar sebagai representasi era modern.
Gerakan dinamis mengikuti beragam aransemen musik, mulai dari musik klasik, techno, campursari, koplo, hingga hipdut.
Lewat pertunjukan tersebut, SMAN 7 Surakarta menunjukkan bahwa dangdut merupakan identitas musik Indonesia yang mampu beradaptasi sekaligus bersifat inklusif.
SMA Regina Pacis Surakarta
SMA Regina Pacis Surakarta menghadirkan pertunjukan naratif-reflektif bertajuk “Kembali ke Akar Indonesia Kita — Back to the Roots”.
Karya tersebut mengangkat trauma ekologis akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Pertunjukan bermula dari gambaran kehidupan harmonis masyarakat adat Suku Dayak. Namun, suasana panggung berubah mencekam ketika simulasi kobaran api menggambarkan kebakaran yang melalap kawasan hutan.
Di tengah kehancuran ekosistem, sosok Burung Enggang hadir membawa pesan moral, “Jangan bakar Indonesia. Sadarlah, wahai manusia. Indonesia milik kita semua.”
Pementasan kemudian ditutup dengan seruan persatuan untuk menjaga dan menyelamatkan hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia.
SMAN 3 Surakarta
SMAN 3 Surakarta membawakan pertunjukan alegoris bertajuk “The Rise of Indonesia”.
Karya tersebut menjadi refleksi atas kekayaan budaya Nusantara yang dihadapkan pada persoalan lingkungan serta berbagai dinamika sosial.
Pertunjukan dibagi dalam beberapa babak. Dimulai dengan gambaran keagungan Indonesia, kemudian berlanjut menuju bagian konflik yang merepresentasikan ketidakadilan dan bentrokan sosial.
Meski mengangkat beragam persoalan yang dihadapi bangsa, pementasan ditutup dengan Closing Scene yang penuh optimisme.
Melalui gerakan saling menopang dan bergandengan tangan, SMAN 3 Surakarta menyampaikan pesan bahwa persatuan merupakan fondasi utama bagi Indonesia untuk bangkit dan menyongsong masa depan.
SMAN 2 Surakarta
SMAN 2 Surakarta menghadirkan kisah edukatif bertajuk “NUSA: Jejak Sang Naga”.
Pertunjukan tersebut mengisahkan perjalanan dua wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melihat “Naga Purba”. Keduanya kemudian berbaur dengan kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
Melalui permainan tradisional dan perubahan kostum, batas antara pendatang dan warga lokal perlahan menghilang.
Kemunculan sosok Komodo di bagian akhir pertunjukan semakin memperkuat pesan utama yang disampaikan. Komodo bukan sekadar objek wisata, melainkan bagian dari kekayaan alam Nusantara yang harus dijaga bersama agar tetap dikenal oleh dunia.
Kelima tim tersebut kini bersiap kembali ke panggung. Penampilan di Final Party akan menjadi kesempatan terakhir untuk menunjukkan kreativitas sekaligus kekuatan pesan yang mereka bawa sebelum tiga tim terbaik dinobatkan sebagai Best Three AQUA DBL Dance 2026 Central Java-South.