Saat ini, para warga telah membuat pembatas dan cungkup api secara swadaya. Sejumlah warga juga masih membuka dagangan makanan dan minuman untuk pengunjung di sekitar lokasi.
Namun demikian, semakin hari jumlah pengunjung yang ingin melihat fenomena alam tersebut memang kian menyusut. Itu lantaran sempat tersiar isu jika api sudah padam.
Salah seorang warga setempat, Mujiono, 60, menyampaikan, awalnya banyak yang memprediksi jika kobaran api itu tidak berlangsung lama. Namun kenyataanya sejak pertengahan Agustus 2019 sampai saat ini api masih membara.
”Pernah diprediksi bakal padam, tapi api ini masih terus menyala, Bahkan api bisa semakin besar dan berubah-ubah warnanya. Terkadang warna biru, kadang warna merah agak kekuningan,” kata dia Selasa (7/1).
Mujiono kembali mengenang kobaran api itu kali pertama ditemukan sehari setelah perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia atau pada 18 Agustus 2019. Api dan gas muncul di lahan bekas sumur bor milik Rebo, warga setempat.
”Api diisukan sudah padam, padahal ini belum mati. Ya dua pekan terakhir ini pengunjung menurun. Di sini tinggal ada dua pedagang. Wisatawan juga paling banyak pas hari Minggu, kadang-kadang kereta kelinci wisata datang ke sini,” ungkapnya.
Mujiono berharap api tetap menyala dan bisa menjadi wisata alternatif di Kecamatan Tanon. Sehingga juga bisa menjadi berkah dan peluang warga setempat untuk mendapatkan rezeki. (din/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra