Ketua DPD PKS Sragen Idris Burhanudin menyesalkan berpisahnya duet Yuni-Dedy pada pilkada mendatang. PKS pun berani mengambil sikap dengan membangun koalisi bersama partai lain. Komunikasi dan koalisi itu digalang agar bisa menjadi kekuatan penyeimbang terhadap pasangan Yuni-Suroto yang diusung PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). ”Kami sebenarnya berharap guyub rukun bisa sampai dua periode,” kata Idris.
Kader PKS siap mengusung Dedy dalam pilkada mendatang. PKS akan menggalang konsolidasi dan menjalin komunikasi dengan parpol lain. Sebab, untuk mengusung calon sendiri tidak bisa karena hanya memiliki enam kursi. Setidaknya masih butuh minimal tiga kursi lagi untuk mengusung calon.
”Kami akan membangun komunikasi dengan parpol lain. Ini supaya demokrasi di Sragen bisa berjalan dengan baik. Perlu ada kekuatan penyeimbang dan kami akan menggalang poros baru di Sragen,” ujar Idris yang mengaku sudah menjalin komunikasi dengan parpol lain, seperti Nasdem, Partai Gerindra, Partai Golkar dan PAN.
Berbeda dengan sikap Partai Gerindra yang cenderung adem ayem. Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah Sriyanto Saputro cenderug menunggu untuk konstalasi politik di Pilkada Sragen. ”Kami menghormati keputusan dari PDIP, dan opsinya juga dua kemungkinan. Mungkin membangun poros, mungkin juga bergabung,” bebernya.
Pihaknya juga tidak mempermasalahkan perjalanan Yuni yang pernah menang bersama Gerindra, namun meninggalkan partai ini saat dipercaya sebagai ketua dewan pembina DPC Gerindra. ”Dalam politik kita tidak boleh baper (terbawa perasaan). Apalagi Gerindra sudah terbiasa dan kebal dikhianati, kita positif thinking,” ujar dia.
Dia menyampaikan, dinamika politik tidak masalah jika harus bergabung dengan PDIP dan PKB. Namun jika ada rivalitas ini akan lebih baik agar tidak melawan kotak kosong. Pihaknya sama seperti yang dilakukan partai lain, yakni membangun komunikasi politik. ”Di level DPC, kami sudah komunikasi dengan PKS, Golkar, termasuk dengan PDIP,” bebernya.
Sriyanto secara pribadi ingin bertarung melawan pasangan Yuni-Suroto agar rakyat punya pilihan pemimpin. Namun semua dikembalikan pada putusan partai. (din/bun)
Editor : Perdana Bayu Saputra