Proses membuat mi dari bahan baku singkong ini tidak gampang. Masih dilakukan secara tradisional. Surani, salah seorang pembuat mi tiwul menuturkan, bahan baku singkong yang digunakan harus berkualitas. Selanjutnya singkong dikupas dan dijemur hingga menjadi gaplek.
Setelah kering, bahan gaplek ditumbuk hingga lembut menjadi tepung. Tepung kemudian dicampur bumbu dapur seperti garam, tumbar, merica, bawang putih, dan ditambah sedikit air panas agar tepung bisa mengental jadi satu dengan bumbu.
Adonan tersebut lalu dimasukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari alumunium. Bahan kemudian ditindih menggunakan sebatang kayu dengan bobot sekitar 60 kilogram. Jadilah mi tiwul.
Adonan serupa juga bisa digunakan untuk kerupuk, getuk, kue bolu, dan sebagainya. Menurut Surani, mi tiwul sudah ada sejak zaman dahulu. Hampir seluruh warga di Desa Sepat bisa membuat mi tiwul.
“Sekarang juga masih ada (yang buat mi tiwul). Sayangnya masih menggunakan alat manual. Dalam satu hari paling hanya bisa memproduksi 10-20 kilogram,” jelas dia.
Ketika menggunakan mesin, lanjut Surani, dia bisa memproduksi 40-50 kilogram mi tiwul dalam sehari. Pembuatan mi tiwul tersebut ditekuninya sejak 25 tahun lalu. Meneruskan usaha orang tua.
Mi tiwul buatan Surani biasa dijual di pasar tradisional. Sebagian yang lain diambil pedagang dari Solo, Boyolali, Sukoharjo, dan Semarang.
Ketua PKK Sepat Suhartini mengatakan, PKK ingin menyosialisasikan pelatihan pembuatan mi tiwul ini kepada masyarakat. Sehingga bisa menjadi tonggak kemandirian ibu rumah tangga. ”Bisa untuk mensejahterakan keluarganya,” ujarnya.
Selain itu, Suhartini bakal mengajukan bantuan alat mesin kepada pemerintah agar memudahkan perajin mi tiwul berproduksi. (din/wa/ria)
Editor : Perdana Bayu Saputra