Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Usai Dikeluhkan Penerima, Kemensos Cek Kualitas BPNT di Sragen

Damianus Bram • Jumat, 20 Agustus 2021 | 03:30 WIB
HARUS PENUHI STANDAR: Bantuan pangan non tunai yang disalurkan ke warga. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
HARUS PENUHI STANDAR: Bantuan pangan non tunai yang disalurkan ke warga. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
SRAGEN Sejumlah warga mengeluhkan kualitas barang bantuan pangan non tunai (BPNT) di Kabupaten Sragen. Sebagian keluhan itu diumbar ke media sosial. Kementerian Sosial (Kemensos) sampai terjun langsung ke sejumlah wilayah di Sragen untuk memastikan kondisinya, Rabu (18/8) malam.

Salah seorang warga Kecamatan Sambungmacan, S membenarkan hal tersebut. Bahkan ada warga yang diminta sampel BPNT oleh kemensos. Beras yang dibagikan warga tidak ada label yang jelas. Karena seharusnya beras premium. Bahkan dia menunjukkan bulir beras kondisinya banyak yang patah. Bahkan salah satu desa di Kecamatan Sambungmacan tidak ada e-warung.

”Pembagian dari sub agen. Sub agen itu nanti minta uang ke penerima antara Rp 5.000 – Rp 8.000. Katanya buat bensin,” terang S kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Selain itu, beberapa keluhan sempat dilontarkan sejumlah warga. Salah satunya tokoh masyarakat lewat media sosial. Sri Wahono yang mengunggah keluhan soal BPNT pada Selasa (3/8) lalu. Lantas mendapat penjelasan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sragen pada Minggu (8/8) lalu.

”Kemarin banyak yang kami pantau. Tiga bulan kan dirapel berturut-turut, Juli, Agustus, September sudah menerima bantuan itu dan menunya sama. Beras 15 kilogram, telur setengah kilogram, bawang setengah kilogram, kentang 1 kilogram tapi kentang yang tidak berkualitas mutunya. Kalau orang pasar nyebutnya kentang afkiran, yang sudah tidak laku,” ujarnya.

Dia menambahkan, sudah mendapat daftar harga eceran dari dinsos. Namun tidak yakin karena dinilai harga lebih tinggi.

”Jadi pada umumnya keluhan masyarakat seperti kentang terlalu mahal untuk barang yang tidak berkualitas,” ujarnya.

Wahono menilai BPNT harus tepat waktu, tepat sasaran, tepat mutu dan tepat administrasi. Namun kenyataanya dilanggar oleh penyalur. Seperti beras yang diberikan seharusnya kualitas premium hanya diberi kantong polos tanpa label dengan jahitan kantong yang terlihat baru.

Lantas beras di pasaran saat ini seharusnya Rp 10 ribu per kilogram, namun di harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) per 19 Juli lalu senilai Rp 12 ribu. Telur ayam di pasar Rp 22 ribu per kilogram dalam HET Rp 23 ribu. Sedangkan kentang Rp 13 ribu per kilogram sesuai HET. Tapi kualitasnya harus lebih baik.

Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin (Kabid PFM) Dinsos Sragen Nunuk Sri Rejeki membenarkan ada tim dari kemensos yang hadir di Sragen untuk mengecek bansos BPNT. Pengecekan ingin mengetahui komoditas apa saja yang dibagikan.

Kan sudah disalurkan. Jadi beliau mengarahkan komoditas apa saja, harganya berapa, dan jenis-jenisnya apa saja. Serta cara pendistribusian bagaimana,” terangnya.

Di Sragen sudah mengarahkan sesuai dengan petunjuk teknis (juknis). Selain itu warga bisa menolak jika barang yang diberikan tidak sesuai ketentuan.

”Kalau berasnya tidak premium bisa tidak diterima, dikembalikan ke e-warungnya,” ujarnya.

Jika ada desa yang belum ada e-warung bisa disampaikan ke BNI 46 sebagai bank himbara di Kabupaten Sragen. Sementara untuk distributor yang menyetok barang, diserahkan sebagai kewenangan e-warung. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Kualitas BPNT Banyak Rusak #Dinsos Sragen #e-warung #Kemensos Cek Kualitas BPNT di Sragen #bantuan pangan non tunai #Kualitas BPNT