Kategori akademik terdiri dari Matematika dengan 271 peserta, IPA 258 peserta, IPS 112 peserta, dan bahasa Inggris 173 peserta. Kategori non akademik yakni pildacil 83 peserta, tahfiz 129 peserta dan puisi 112 peserta. Kategori olah raga terdiri dari panahan dengan 31 peserta dan futsal 60 peserta dan dibagi menjadi enam tim.
Dimsa Fair diawali sejak 2017 lalu. Tujuannya membangun citra bahwa sekolah yang berbasis pesantren tidak hanya mengaji dan menghafal Alquran. Tetapi sekolah berbasis ponpes pun bisa berprestasi. Karena diajarkan akademik serta membangun skill ke depannya. Dimsa Fair sekaligus ajang silaturahmi ke sekolah dasar (SD) maupun madrasah ibtidaiyah (MI) dan sarana mengenalkan ponpes Dimsa Sragen.
Kepala Sekolah Ponpes Dimsa Wibowo Julisaputro mengatakan, sistem pelaksanaan Dimsa Fair tahun ini berbeda dengan sebelum pandemi. Dulu secara luring dengan menghadirkan peserta, tetapi sejak pandemi sistem berubah menjadi daring. Akan tetapi, untuk lomba olah raga tetap diadakan secara langsung. Dengan sistem undangan dan peserta terbatas.
”Sosialisasi offline kami mendatangi langsung sekolah-sekolah, tetapi karena terbatas ya kami maksimalkan di online. Alhamdulillah peserta tahun ini mencapai ribuan,” katanya.
Digelarnya Dimsa Fair, menunjukkan bahwa Ponpes Dimsa mampu konsisten dan menunjukkkan adanya kepercayaan dari masyarakat.
”Untuk Dimsa Fair tahun ini bisa menjadi sebuah event rutinan tiap tahun, bisa lebih luas jangkauannya, lebih banyak peserta nya. Dan semoga Pondok juga semakin dikenal oleh masyarakat luas,” harapnya. (mg2/mg6/mg7/adi)
Editor : Tri Wahyu Cahyono