Kepala Bidang (Kabid) Binamarga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Sragen Albert Pramono Susanto menjelaskan, dana pinjaman senilai Rp 70 miliar untuk dua tahun dibagi dalam 16 paket. Pada 2022 nanti dikerjakan dua paket, lantas 2023 digunaan untuk pembiayaan 14 paket.
Albert menambahkan, total pekerjaan pada 2022 hanya sekitar Rp 7 miliar. Yakni ruas jalan Kedungnolo-Gringging dengan pagu Rp 3,1 miliar. Selain itu pekerjaan jalan Wonotolo-Srimulyo Rp 4,6 miliar. Dua jalan tersebut termasuk dinilai rusak berat. Dua paket tersebut diusulkan karena masuk dalam Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (RKPD) 2022.
”Kami dapat plafon Rp 70 miliar, untuk pekerjaan dua paket tahun 2022 dan 14 paket 2023. Untuk 2022 hanya dua paket karena yang bisa didanai yakni yang sudah masuk RKPD dari DPUPR 2 paket itu,” terangnya.
Sedangkan untuk 14 paket 2023 akan disiapkan pada RKPD berikutnya. Karena kondisi jalan di Sragen secara umum mengalami penyusutan. Dari 82 persen jalan yang bagus, menurun menjadi 80 persen. Kondisi itu dipengaruhi berbagai alasan, mulai dari kontur tanah dan sebagainya.
”Karena persentase kondisi jalan turun 2 persen jadi 80 persen,” imbuhnya.
Dengan dana pinjaman daerah tersebut bisa membantu perbaikan jalan. Jika tanpa pinjaman daerah, anggaran yang dialokasikan dari keuangan daerah hanya sekitar Rp 30 miliar. Namun dengan ini bisa ada tambahan jadi Rp 70 miliar.
”Kalau mengandalkan keuangan daerah mungkin hanya sekitar Rp 30 miliar. Tahun depan bisa delapan paket,” tuturnya.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Sragen Dwiyanto menyampaikan, mekanisme utang juga pernah dilakukan periode sebelumnya. Langkah itu dinilai efektif untuk pembangunan infrastruktur dan dirasakan masyarakat.
”Cor jalan sejumlah ruas di Sragen dampaknya sudah dirasakan, kalau bukan cor mungkin mungkin sudah rusak. Selain itu pembayaran juga sudah lunas,” tandasnya. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram