Kades Cemeng, Kecamatan Sambungmacan Widayat menuturkan, ada akses jalan kabupaten yang sejak 2008 belum tersentuh pembangunan. Jalan tersebut berada di Toloyo, Desa Cemeng sepanjang 4,2 kilometer.
”Jadi memang jalan kabupaten. Selama 4 periode kades sampai sekarang belum lagi tersentuh pembangunan. Kondisinya sudah rusak. Setiap ada kesempatan sebenarnya sudah sering diusulkan untuk diperbaiki,” ujarnya.
Selain itu ada pula jalan perbatasan antara Desa Cemeng dengan Desa Karanganyar sejauh 3,6 kilometer. Jalan kabupaten tersebut baru setengah yang diperbaiki pada 2020 lalu.
Senada disampaikan Kades Banaran, Susilo. Dia berharap ada perbaikan jembatan yang menghubungkan Desa Kandang Sapi, Kecamatan Jenar dengan Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan mendapat perhatian.
”Karena jembatan itu berdampak pada perekonomian. Dulu Pasar Banaran itu jantung Kecamatan Sambungmacan, Sekarang sepi,” ujarnya.
Terkait hal itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Untung Wibowo Sukowati menuturkan, sebagian besar keluhan masyarakat masih seputar infrastruktur.
”Seperti jembatan dan jalan masih dikeluhkan,” ujarnya.
Namun di beberapa lokasi Utara Bengawan juga cukup dinamis. Beberapa meminta untuk dibuatkan instalasi air bersih. Karena pada masa kemarau, sering kesulitan air.
”Kondisi di Kecamatan Jenar sebagian sudah teraliri PDAM. Namun memang belum menyeluruh,” ujarnya.
Pihaknya menuturkan setiap aspirasi yang disampaikan ini akan dicatat dan dimasukkan ke sistem. Selanjutnya direncanakan untuk anggaran 2023 mendatang. Namun seperti jembatan yang menyeberangi Bengawan Solo butuh anggaran yang besar dan waktu.
Dia menegaskan semoga bisa untuk ditangani oleh anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tetapi fokus untuk jembatan dari provinsi pada 2022 ini masih menyelesaikan jembatan Ganefo. Setelah tahun lalu mandeg blacklist, tahun ini informasi terakhir sudah dilaksanakan lelang. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram