Masjid Jami’ Kiai Abdul Jalal dibangun atas perintah dari PB IV pada 1790. Terletak di Desa Kalioso, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Dulunya, istri PB IV ngidam makan daging kijang. Lalu PB IV bersama rombongan pergi berburu. Namun tiba-tiba PB IV menghilang.
Di tengah pencarian, para pengikut PB IV bertemu warga sekitar. Mereka diminta menemui Kyai Abdul Jalal atau Bagus Turmudi yang tinggal di sisi utara sungai. Setelah bertemu, Kyai Abdul Jalal menyanggupi permintaan untuk mencari PB IV. Lalu tugas tersebut diserahkan kepada keponakan Kyai Abdul Jalal, Kyai Muhammad Qorib.
Akhirnya PB IV ditemukan dan kembali pulang. Sebagai wujud rasa terima kasih, PB IV memberi hadiah tanah dan tombak.
“Beliau menghadiahkan tanah secukupnya pengembangan ajaran Islam. PB IV juga memberikan pusaka berupa tombak dan keris, sebuah mimbar, sebuah pintu. Sampai sekarang semuanya masih terawat dan tersimpan di dalam masjid,” terang Ketua Takmir Masjid Jami’ Kiai Abdul Jalal H. Daerobi, Sabtu (23/4).
Selain untuk ibadah, masjid ini juga sering didatangi peziarah. Mayoritas jamaah berasal dari Jawa Timur. Mereka memanjatkan doa di makam Kyai Abdul Djalal yang terletak di sisi barat masjid. Bersebelahan dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Madrasah Diniyah.
“Paling ramai sebelum Ramadan atau bulan Ruwah (penanggalan Jawa). Kebanyakan dari kalangan santri. Ada juga yang dari Jakarta, Jogja, Semarang, dan kota-kota lainnya,” imbuh Daerobi.
Selama Ramadan ini, kegiatan di Masjid Jami’ Kiai Abdul Jalal diisi dengan pengajian, tempat pendidikan Quran (TPQ), hingga tafsir Alquran.
“Biasanya setelah salat Duhur dan Tarawih ada kultum dan tadarusan. Tiap hari juga ada buka puasa bersama,” sambung penjaga Masjid Jami’ Kiai Abdul Djalal Rusdi Marto Suharjo. (mg7/fer/dam) Editor : Damianus Bram