Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Limbah Sapi dan Tahu yang Dulu Mengganggu, Kini Sejahterakan Warga Urutsewu

Syahaamah Fikria • Minggu, 1 Mei 2022 | 21:00 WIB
HASIL KERJA WARGA: Kades Urutsewu memperlihatkan biogas portabel (drum biru) di salah satu rumah warga. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
HASIL KERJA WARGA: Kades Urutsewu memperlihatkan biogas portabel (drum biru) di salah satu rumah warga. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
SRAGEN - Ide cemerlang desa mandiri energi ini di Urutsewu, Kecamatan Ampel, Boyolali ternyata berasal dari hal sederhana. Kepala Desa Urutsewu Sri Haryanto mulai menggagas program desa mandiri energi karena melihat potensi besar masyarakat yang rata-rata memiliki ternak sapi.

Ditambah lagi, desanya memiliki sumur biogas yang sudah ada sejak 1990-an. Serta adanya bantuan alat pengolahan limbah sapi.

Lulusan teknik sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) ini mengamini, limbah kotoran sapi awalnya memang cukup mengganggu. Terpilih menjadi kades sejak 2013 silam, dia mulai berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait. Utamanya dalam mengatasi limbah kotoran sapi dan pabrik tahu. Dari situlah, desanya mendapat program dua biogas. Satu untuk pengolahan limbah sapi dan satunya untuk tahu.

”Bermula dari dua unit biogas ini ternyata membuka mata masyarakat. Masyarakat lantas tergerak membuat digester mandiri dengan swakola. Artinya secara kelompok bersama-sama membangun digester untuk dimanfaatkan bersama-sama,” paparnya.

Pembangunan sumur biogas lantas dilakukan secara masif oleh masyarakat. Kini, desa dengan penduduk sekitar 7 ribu jiwa ini telah memiliki 43 unit biogas dan tiga biogas portabel. Tak hanya peternak sapi, lima pabrik tahu juga memiliki biogas mandiri. Sayangnya, tidak semua masyarakat memiliki ternak maupun menjadi produsen tahu.

Sehingga tahun ini, desa akan membuat dan mendistribusikan 50-60 biogas portabel. Diharapkan mampu memfasilitasi masyarakat yang tidak memiliki biogas. Biaya pembuatan biogas portabel ini cukup terjangkau. Yakni kurang dari Rp 1 juta per unitnya. Biogas portabel ini mendapat sumber energi dari limbah rumah tangga.

Drum bekas akan didesain khusus untuk menampung limbah rumah tangga. Limbah  tersebut akan menghasilkan gas yang kemudian dialirkan melalui pipa paralon ke kompor. Namun, masyarakat harus mengisi limbah rumah tangga setiap hari. Menilik, kapasitas drum hanya kecil. Sehingga untuk sekali pengisian, gas yang dihasilkan hanya cukup untuk memasak sekitar 30 menit sampai satu jam.

”Sisi lain, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Imbasnya juga untuk mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi nasional, dan memperbaiki lingkungan. Karena penghematan biaya elpiji bisa dilakukan sampai Rp 720 ribu per tahun untuk tiap kepala keluarga (KK),” ujarnya.

Saat ini, satu biogas bisa dimanfaatkan untuk tiga sampai tujuh rumah. Sejak adanya biogas ini, perkonomian masyarakat meningkat cukup besar. Baik untuk masyarakat umum maupun pelaku UMKM. BUMDes juga ikut berperan dalam mendorong keberadaan biogas portabel. Tentunya, lebih ramah lingkungan.

Pengetahuan tentang digester biogas dan biogas portabel membawa berkah bagi masyarakat. Efisiensi adanya biogas ini menjadi pendapatan tambahan petani terlatih serta kas kelompok. Kesadaran masyarakat juga meningkat mengenai pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan energi terbarukan.

Masyarakat secara mandiri memanfaatkan limbah kotoran sapi dan ayam, limbah tahu, limbah tempe, serta limbah sayuran menjadi sumber energi. Tak hanya menjadi pengganti gas LPG, namun juga sumber listrik untuk lampu petromaks hingga sumber listrik genset untuk menghidupkan air.

Sementara itu, produsen tempe kedelai di Desa Urutsewu, Ampel, Tutik Handayani mengaku, menikmati keuntungan biogas yang ikut dikembangkannya. Dia mengatakan, ongkos produksi pembuatan tempe kedelai akhirnya bisa ditekan 10 persen-15 persen.

Dalam sebulan, dia bisa menghemat biaya produksi sampai lebih dari Rp 1 juta. Dia tak perlu lagi membeli elpiji untuk merebus kedelai.

"Kalau produksi biasanya habis 1-2 tabung elpiji. Tapi sejak ada biogas, saya hampir tidak pernah beli gas. Kalau pun beli itu hanya untuk cadangan. Untungnya lebih banyak. kalau saya kan tidak beli gas. Jadi bisa hemat," paparnya.

Sementara itu, pelaku UMKM keripik jamur di desa tersebut, Sari mengamini, keberadaan biogas mampu memenuhi kebutuhan energi untuk penggorengan. Biogas ini sudah digunakan sejak 2016. Membuat laba yang didapat semakin banyak. Yakni 10 persen-15 persen karena mampu menekan biaya produksi. Dia juga rutin membersihkan saluran instalasi gas dan mengecek tampungan pembuangan kotoran cair. (rgl/nik/ria)

 

 

 

 

  Editor : Syahaamah Fikria
#desa urutsewu #desa mandiri energi #inovasi #limbah sapi #limbah tahu #biogas