Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Geliat Bisnis Properti di Bumi Sukowati: Ladang Investasi Menjanjikan

Damianus Bram • Rabu, 4 Mei 2022 | 19:00 WIB
TUMBUH PESAT: Para pekerja sedang menyelesaikan pembangunan perumahan bersubsidi di Kecamatan Karangmalang, Sragen. Bisnis property di Bumi Sukowati terus berkembang. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
TUMBUH PESAT: Para pekerja sedang menyelesaikan pembangunan perumahan bersubsidi di Kecamatan Karangmalang, Sragen. Bisnis property di Bumi Sukowati terus berkembang. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
SRAGEN - Bisnis properti di Kabupaten Sragen berkembang pesat. Kebutuhan akan hunian yang layak, membuat para investor berbondong-bondong menginvasi Bumi Sukowati. Mengingat sebagian wilayah di Sragen, merupakan kawasan satelit alias penyangga bagi Kota Solo.

Di Sragen, bisnis properti sempat mengalami kelesuan pada 2020. Sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Terhitung mulai 2021 hingga sekarang, bisnis properti kembali mengeliat.

Sekretaris Asosiasi Pengusaha Properti Sragen (APPS) Giana Saputra mengaku, prospek usaha properti kembali terkerek. Dia mencontohkan, ada calon pembeli dari luar daerah yang mengurungkan niat memiliki hunian pada 2020. Nah, setahun berselang mulai berani membeli. “Pada 2021, penjualan secara bertahap berangsur-angsur normal,” terangnya.

Ada dua jenis properti yang menjadi sasaran konsumen, yakni rumah subsidi dan nonsubsidi. Jenis pertama paling diminati. Perumahan subsidi masih menjadi primadona, dengan pertumbuhan permintaan di angka 25 persen. Alasan utamanya, karena harganya lebih terjangkau. Hanya di kisaran Rp 150 juta-Rp 160 juta per unit.

“Sebenarnya kuota perumahan subsidi di Sragen itu kurang. Target penjualan minimal 500 unit per tahun. Tapi saat ini baru terealisasi sekitar 300-350 unit saja,” imbuhnya.

Jenis kedua, yakni nonsubsidi. Kisaran harganya Rp 200 jutaan. Permintaan hunian kelas menengah ini tumbuh sekitar 10 persen. “Jadi untuk kelas ini, jatuhnya ada yang untuk investasi. Kebanyakan warga Sragen yang bekerja di luar negeri. Memang investasi mereka larinya ke ke rumah nonsubsidi,” beber Giana.

Giana mengaku permintaan hunian nonsubsidi di angka 100 unit. Dia menilai masih cukup jauh peminatnya, daripada rumah subsidi. Terkait lokasi hunia, terdapat sejumlah titik favorit konsumen. Salah satunya di Kecamatan Karangmalang. Meliputi Kelurahan Kroyo, kelurahan Plumbungan, Desa Puro, dan Desa Guworejo.

Tidak menutup kemungkinan, kawasan lainnya juga potensial untuk bisnis property. Tergantung rencana tata ruang wilayah (RTRW) wilayah masing-masing.

“Lahan (persawahan) yang sudah kuning, mulai digarap teman-teman. Bukan hanya fokus di wilayah Karangmalang saja. Sejak 2020, property mulai menjamur di Kelurahan Nglorog, Sragen Kota. Total ada sekitar lima sampai enam kawasan perumahan. Padahal sebelumnya, kawasan ini prospeknya dinilai kurang,” ujarnya.

Selan dua kawasan tersebut, binsis properti juga berkembang pesat di Kecamatan Gemolong dan Gondang. Artinya, pengembang properti mulai melirik kawasan satelit. Kondisi tersebut tidak lepas dari sinergi bersama antara pengembang dengan pemerintah daerah.

“Kami sengaja tidak banyak bermain di Kecamatan Sidoharjo. Salah satu alasannya, karena pemkab masih mempertimbangkan Sidoharjo sebagai kawasan lahan hijau (sawah lestari),” urainya.

Sementara itu, Giana mengajak para pengembang lainnya untuk segera bergabung dengan APPS. Karena APPS bertanggung jawab untuk ikut mengawal pengawalan pengembangan bisnis ini, sesuai ketentuan Pemkab Sragen. Berupa penyediaan fasilitas umum, fasilitas sosial, serta tertib perizinan.

“Developer kami jaga legalitasnya. Supaya pembeli tidak menjadi korban. Dan pembeli tidak tertipu. Jadi, proses teknis dan perizinan harus diperhatikan,” ungkapnya. (din/fer/dam) Editor : Damianus Bram
#Bisnis Properti #Bisnis Properti di Sragen #Investor di Sragen #Asosiasi Pengusaha Properti Sragen #APPS