Sekadar informasi, upwelling adalah pembalikan masa air. Di mana air laut yang lebih dingin dan bermasa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya.
Fenomena tersebut mulai terpantau, Senin (29/8) pagi. Nampak sejumlah ikan mulai lemas dan mati mengambang ke permukaan air. Fenomena upwelling ini terjadi akibat perbedaan suhu bawah air dengan permukaan.
Akibatnya, ikan di karamba mati karena kekurangan oksigen. Bahkan fenomena ini sudah sering terjadi setiap tahun di kawasan WKO periode Agustus dan awal September saat pergantian musim.
Eko, salah seorang petani karamba WKO membenarkan fenomena upwelling. Kondisi tersebut menyebabkan banyak ikan mati mendadak. ”Betul, tapi hanya sebagian kecil, belum merata. Lokasinya bagian selatan waduk,” kata dia.
Ikan yang mati akibat fenomena upwelling ini beragam. Mulai dari ikan mas, mujair, nila, tombro, hingga patin. Namun ikan yang tidak dalam keramba pada umumnya bisa bertahan dan menghindar ke tempat yang lebih aman.
Senada disampaikan Warsito, 31, salah satu petani keramba asal Kowang, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang. Dia mengatakan beberapa keramba sudah terdampak upwelling. ”Kalau di tempatku allhamdulilah aman, cuma di tempatnya temanku sebagian sudah terkena tadi siang,” jelasnya.
Warsito berharap, tahun ini para petani keramba WKO bisa terhindar dari musibah tersebut. Karena sebelumnya ribuan ekor ikan mati. Sehingga banyak yang merugi puluhan juta rupiah. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram