Puluhan petani membentangkan tulisan menolak untuk menjual sawahnya. Mereka mengeluhkan ada intimidasi. Terutama dari pihak perusahaan.
Sekretaris Forum Petani Thonie Sujarwanto menyampaikan, dua tahun lalu sempat ada investor hendak membeli lahan. Namun tidak jadi dan mengurungkan niatnya. Lantas akhir-akhir ini investor yang berbeda hendak kembali menawar lahan pertanian di Desa Bonagung.
”Ada yang berkali-kali datang ke rumah. Padahal sudah menyampaikan tidak dijual, alasan tidak jual karena memang tidak mau jual nggak butuh jual dan masih pengin bertani di sini. Kalau tukar tambah juga nggak mau, wong di sini juga sudah lama,” ujarnya.
Pihaknya menyampaikan penawaran juga bervariasi. Dari harga Rp 150-250 ribu per meter. Tergantung lokasi lahan. ”Beda-beda semakin orangnya lemah berarti semakin dibuat rendah harganya dan perhitungan dekat jalan beda harganya,” tuturnya.
Kades Bonagung Suwarno menyampaikan, sejak awal perusahaan sudah izin ke pihak desa. ”Pendekatan murni dari tim perusahaan, meminta tolong warga setempat. Jadi didata yang menyatakan dijual dan tidak dijual tanda tangan. Datanya diserahkan ke perusahaan dan yang menyatakan dijual hampir 80 persen, tapi belum sampai pembicaraan harga,” jelasnya.
Terkait aksi para petani itu, perwakilan PT TKG Taekwang Indonesia Sudihartoyo menuturkan mempersiapkan industri sepatu merek ternama di Sragen. Saat ini perusahaan sudah beroperasi di Subang dan proses operasional di Cirebon. Sragen menjadi pabrik ketiga yang akan didirikan.
”Proyeksi kami bisa menyerap 35 ribu karyawan, tidak hanya dari Sragen, juga menyerap dari kabupaten sekitar. Lahan yang kami perlukan sekitar 40-45 hektare,” ujar dia.
Soal penolakan petani, dia menekankan tidak ada pemaksaan. ”Kami pendekatan personal ke pemilik lahan. Kami masih berusaha untuk membuka wawasan bagaimana nanti kalau efek adanya pabrik,” ujar dia. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram