Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan, sesuai perintah presiden untuk atasi inflasi, pemerintah daerah diminta menggunakan 2 persen dari belanja tidak terduga (BTT). Di Sragen nilainya sekitar Rp 5,2 miliar.
”Kemarin kami duduk bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI), angka inflasi di Kabupaten Sragen 0,35 persen. Seluruh Jawa Tengah masih sangat terkendali. Tapi ketersediaan dana untuk kegiatan operasi pasar, padat karya dan subsidi angkutan umum dan sebagainya harus tersedia sewaktu-waktu dibutuhkan,” ujarnya.
Dia menekankan, pemerintah daerah mempersiapkan anggaran untuk pengendalian inflasi tersebut. Namun, dia menilai di Sragen situasi masih sangat terkendali. Sehingga belum akan menggelar operasi pasar.
”Kami lebih pada kegiatan pekerjaan diarahkan untuk dilaksanakan secara padat karya. Untuk pengendalian inflasi,” imbuh bupati.
Pihaknya perlu memastikan aturan atau payung hukum terkait penggunaan BTT untuk pengendalian inflasi. Cadangan dana yang bisa sewaktu-waktu digunakan memang ada. Hanya saja misalnya sudah mencapai batas rata-rata inflasi nasional baru boleh digunakan. Atau digunakan sejak awal untuk mencegah.
”Kami belum berani serta merta menggunakan, tapi Alhamdulillah Sragen kondusif,” jelasnya.
Yuni menegaskan jika sampai akhir tahun kondisi ekonomi stabil seperti ini, BTT bisa menjadi silpa. Untuk komoditas yang cukup tinggi adalah telur. Sedangkan komoditas lain seperti bawang merah relatif stabil. Karena tidak ada event besar tertentu dalam waktu dekat, sehingga kebutuhan masyarakat hanya mencukupi untuk harian saja.
Seperti diketahui, pemerintah daerah juga melakukan upaya pengendalian inflasi dampak dari kenaikan harga BBM. Termasuk kebijakan menggunakan belanja tidak terduga (BTT) untuk menggelar operasi pasar terkait kebutuhan pokok masyarakat. (din/adi/ria) Editor : Syahaamah Fikria