Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

10 Desa di Sragen Dicanangkan Bebas Stunting 

Damianus Bram • Rabu, 30 November 2022 | 03:51 WIB
PROGRAM NASIONAL: Deklarasi desa Gotong Royong Cegah Stunting (Gong Ceting) di Kabupaten Sragen, Selasa (29/11). (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
PROGRAM NASIONAL: Deklarasi desa Gotong Royong Cegah Stunting (Gong Ceting) di Kabupaten Sragen, Selasa (29/11). (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Kasus anak stunting di Kabupaten Sragen masih cukup tinggi, bahkan menjadi sorotan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Buktinya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jateng memasukkan Sragen dalam 14 kabupaten yang perlu pendampingan dari perguruan tinggi untuk penanganan stunting.

Untuk itu, 10 desa ditunjuk jadi percontohan menjadi desa Gotong Royong Cegah Stunting (Gong Ceting). Yakni Saradan, Kecamatan Karangmalang; Mojokerto, Kecamatan Kedawung; Jambeyan, Kecamatan Sambirej; Karangudi, Kecamatan Ngrampal; Banaran Kecamatan Sambungmacan; Jenar, Kecamatan Jenar; Masaran, Kecamatan Masaran; Ketro Kecamatan Tanon; Pandak, Kecamatan Sidoharjo; dan Ngebung, Kecamatan Kalijambe.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Sragen Udayanti Proborini menjelaskan, stunting pada 2021 berada di angka 18,8 persen. Sedangkan target pemerintah tahun ini bisa kurang dari 14 persen.

Pihaknya bermitra dengan perguruan tinggi dan sejumlah pihak untuk upaya penurunan stunting di Sragen. Beberapa kegiatan dilakukan di 10 desa yang menjadi sorotan terkait stunting.

”Peran perguruan tinggi melalui mahasiswanya cukup banyak. Mereka memberikan pelatihan pengolahan pangan lokal menjadi makanan sehat untuk cegah stunting. Kemudian membentuk tim pendamping keluarga dan program sanitasi,” terang Udayanti.

Pihaknya menjelaskan, dengan mengawali di 10 desa, kedepan bisa ditiru oleh desa sekitarnya. Pendampingan dari perguruan tinggi hingga Rabu (30/11) ini. Pendampingan tersebut diharapkan bisa berkelanjutan dari pemerintah desa.

Wakil dekan fakultas kesehatan salah satu universitas yang menjadi pendamping, Galih Septiar Pontang menjelaskan, BKKBN Jateng bekerjasama dengan 14 perguruan tinggi untuk cegah stunting. Sehingga salah satu upaya yakni menggelar KKN tematik di daerah yang angka stunting cukup tinggi, termasuk Kabupaten Sragen.

”Kami pendampingan dan kampanye edukasi, serta berbagai kegiatan. Pemilihan Sragen ini berdasarkan pertimbangan BKKBN Jateng, karena ketika data didapatkan salah satunya yang tertinggi di Jawa Tengah,” ujarnya.

Dia mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan. Sebelumnya angka stunting sempat mencapai 30 persen. Namun sekarang sudah berada di angka 18 persen.

”Namun perlu perkuat lagi dalam pendataan. Sangat penting karena data yang didapat valid dan akurat maka masalah stunting bisa diselesaikan,” terangnya. (din/adi) Editor : Damianus Bram
#Kasus Stunting di Sragen #Gong Ceting #Kasus Stunting #Desa Gotong Royong Cegah Stunting #DPPKBPPPA Sragen