Untuk itu, 10 desa ditunjuk jadi percontohan menjadi desa Gotong Royong Cegah Stunting (Gong Ceting). Yakni Saradan, Kecamatan Karangmalang; Mojokerto, Kecamatan Kedawung; Jambeyan, Kecamatan Sambirej; Karangudi, Kecamatan Ngrampal; Banaran Kecamatan Sambungmacan; Jenar, Kecamatan Jenar; Masaran, Kecamatan Masaran; Ketro Kecamatan Tanon; Pandak, Kecamatan Sidoharjo; dan Ngebung, Kecamatan Kalijambe.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Sragen Udayanti Proborini menjelaskan, stunting pada 2021 berada di angka 18,8 persen. Sedangkan target pemerintah tahun ini bisa kurang dari 14 persen.
Pihaknya bermitra dengan perguruan tinggi dan sejumlah pihak untuk upaya penurunan stunting di Sragen. Beberapa kegiatan dilakukan di 10 desa yang menjadi sorotan terkait stunting.
”Peran perguruan tinggi melalui mahasiswanya cukup banyak. Mereka memberikan pelatihan pengolahan pangan lokal menjadi makanan sehat untuk cegah stunting. Kemudian membentuk tim pendamping keluarga dan program sanitasi,” terang Udayanti.
Pihaknya menjelaskan, dengan mengawali di 10 desa, kedepan bisa ditiru oleh desa sekitarnya. Pendampingan dari perguruan tinggi hingga Rabu (30/11) ini. Pendampingan tersebut diharapkan bisa berkelanjutan dari pemerintah desa.
Wakil dekan fakultas kesehatan salah satu universitas yang menjadi pendamping, Galih Septiar Pontang menjelaskan, BKKBN Jateng bekerjasama dengan 14 perguruan tinggi untuk cegah stunting. Sehingga salah satu upaya yakni menggelar KKN tematik di daerah yang angka stunting cukup tinggi, termasuk Kabupaten Sragen.
”Kami pendampingan dan kampanye edukasi, serta berbagai kegiatan. Pemilihan Sragen ini berdasarkan pertimbangan BKKBN Jateng, karena ketika data didapatkan salah satunya yang tertinggi di Jawa Tengah,” ujarnya.
Dia mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan. Sebelumnya angka stunting sempat mencapai 30 persen. Namun sekarang sudah berada di angka 18 persen.
”Namun perlu perkuat lagi dalam pendataan. Sangat penting karena data yang didapat valid dan akurat maka masalah stunting bisa diselesaikan,” terangnya. (din/adi) Editor : Damianus Bram