Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Masjid Jami’ Sukodono Olah Air Bekas Wudu

Damianus Bram • Jumat, 2 Desember 2022 | 15:20 WIB
INOVASI: Pengolahan sisa air wudu di Masjid Jami’ Sukodono. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
INOVASI: Pengolahan sisa air wudu di Masjid Jami’ Sukodono. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Masjid Jami’ Sukodono menjadi masjid pertama yang mengelola sisa air wudu agar tak terbuang sia-sia. Takmir Masjid Jami’ membuat sistem konservasi air untuk menghemat.

Takmir masjid Nasihul Anshori menyampaikan kebutuhan air bersih masjid di lingkungan pasar Sukodono ini cukup tinggi. Pasalnya berada di lingkungan pasar. Penggunaan air juga dipakai para pedagang, selain dari jamaah warga sekitar.

”Sebenarnya untuk masjid ini, airnya tersedia. Tapi karena dekat dengan pasar, pedagang dan pengunjung ada yang salat di sini, maupun nunut bersuci disini, ini termasuk masjid boros,” ujarnya, Kamis (1/12).

Pihaknya bersyukur, Masjid Jami’ Sukodono menjadi pioner dalam program kerjasama antara DPU Sragen dan Baznas Sragen terkait pengolahan air. Dia berharap dengan ini bisa menekan pengeluaran biaya PDAM.

”Sebulan lumayan tinggi, untuk bayar PDAM bisa sampai Rp 700 ribu,” terangnya.

Anshori menambahkan, untuk kebutuhan air, warga sekitar bergantung pada PDAM. Karena kondisi akir tanah sulit didapat. ”Air tanah di sini susah, kedalaman di atas 50 meter, kalau PDAM dekat sini macet ya sudah, (kelangkaan air,Red),” jelasnya.

Kepala DPU Sragen R. Suparwoto menjelaskan, untuk pengolahan air ini bukan dari toilet. Selain itu, sudah melalui uji laboratorium untuk memastikan kemurnian dan kebersihan.

”Jadi air yang sudah dipakai untuk beberapa kegiatan, termasuk wudhu,” jelasnya.

Dia menjelaskan ada empat kali penyaringan untuk menghasilkan air kembali bersih. Penyaringan pertama terdiri dari bata dan ijuk untuk mengendapkan kotoran. Kemudian kedua penyaringan menggunakan zeolid, kemudian penyaringan  ketiga melalui pasir silica dan keempat penyaringan melalui kapas.

”Setelah itu air bisa dimanfaatkan lagi dan kembali bersih,” terangnya.

Untuk proses perawatan penyaringan, lanjut dia, diganti minimal setiap tiga bulan. Setelah air bersih, bisa disalurkan ke penampungan di bawah seluas 6 kubik. Kemudian disalurkan ke tandon.

”Hasil labkesda, airnya jadi air baku. Bisa dimanfaatkan untuk menyeduh air minum,” terangnya.

Ketua Baznas Sragen Mustaqim menjelaskan awalnya ada pembicaraan dengan DPU Sragen dan disampaikan ke Baznas. Karena itu merupakan ide bagus, akhirnya ditindaklanjuti. Untuk instalasi sekitar Rp 25 juta. ”Kalau ini pertama di Sragen, saya tidak tahu di luar,” jelas dia.

Pihaknya menyampaikan salah satu memilih Sukodono, agar menjadi percontohan. Selain melihat kondisi alam, air cukup sulit didapat ketika musim kemarau.

”Kami terbuka untuk membantu warga terkait ketersediaan air. Kami harap bisa dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Air Wudu #Masjid Jami’ Sukodono #DPU Sragen #Baznas Sragen #Olah Air Bekas Wudu