Paguyuban ini didirikan paska kemerdekaan. Berasal dari Kampung Ngablak, Kelurahan Kroyo, Kecamatan Karangmalang. Saat ini dibina oleh Mbah Sugi yang berusia 85 tahun.
Mbah Sugi mengungkapkan, paguyuban ini sudah turun temurun empoat generasi. ”Asli kampung Ngablak. Kesenian reog lokal, kalau sekarang ada sekira 40 orang yang tergabung,” ujarnya.
Pengurus Reog Turonggo Sakti Tri Wibowo menyampaikan, meski kesenian tradisional, namun undangan pertunjukan juga masih ramai dan diminati. Bukan hanya di lingkungan sekitar saja, namun bahkan undangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
”Tanggapan masih ramai dari lingkungan. Pernah juga lomba di Provinsi Jawa Tengah,” terangnya.
Namun dengan bertahannya kelompok ini, harus tetap melestarikan atau nguri-uri budaya dan tradisi serta kesenian Jawa. Pihaknya juga membuat kelompok ketoprak yang dinamai Joyo Gendelo. ”Dengan terus berkarya, harapan kami kesenian ini tetap eksis, ini wujud dan upaya pelestarian budaya. Tidak boleh ditinggal,” ungkapnya.
Dia menyampaikan sejauh ini dari pemerintah dan masyarakat banyak dukungan. Seperti pemerintah memberi dukungan dengan mengusahakan akta untuk mematenkan reog Ngablak. Namun selama ini cukup sering diundang. Lantas dari pengusaha juga tidak ragu menyokong dengan memberikan sponsorship. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram