Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat meresmikan menyampaikan terkait boyongan harus dipersiapkan dengan matang. Karena sebelum dilakukan boyongan, akan dilaksanakan pengundian. Namun dilakukan penomoran dahulu untuk lapak los dan kios.
”Soal boyongan akan digelar kirab atau perayaan lainnya. Nanti dibicarakan dengan pedagang, mau wayangan atau apa dibicarakan dengan paguyuban,” terangnya.
Pasar yang dibangun di atas lahan seluas 24 ribu meter persegi ini merupakan aset yang harus dimanfaatkan. ”Pada saat saya menjabat, saya punya cita-cita membangun pasar yang representatif untuk warga Kabupaten Sragen,” ujarnya.
Dia menyampaikan pasar ini sekaligus menata Pasar Nglangon, Joko Tingkir dan Kios Batuar. Terkait pemberian nama Pasar Sukowati, agar tidak menimbulkan kecemburuan jika mengambil salah satu nama dari tiga lokasi tersebut.
”Alhamdulillah dibangun pada saat Bupatinya Yuni Sukowati,” candanya saat memberi sambutan.
Soal ada yang belum sepakat, Yuni optimistis pada waktunya akan setuju dengan penempatan di Pasar Sukowati ini. Pihaknya menegaskan ada pihak yang masih belum legawa hanya sebagian kecil.
”Semua ada masanya, toh ini kan untuk kebaikan. Jadi kemarin yang menempati kios juga tetap mendapatkan kios,” terangnya.
Rencana selanjutnya, lanjut bupati, bangunan bekas pasar Nglangon dibuat sentra batik. Sedangkan lahan bekas pasar Joko Tingkir menjadi ruang terbuka hijau (RTH). Termasuk dilakukan penataan lalu lintas.
Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sragen Tatag Prabawanto yang hadir dalam peresmian itu mengatakan berdirinya pasar ini diharapkan mengikis stigma negatif tentang Nglangon. Pembangunan pasar ini dimulai saat Tatag masih menjabat.
”Yang paling utama menghilangkan stigma negatif,” ujarnya.
Dia menjelaskan untuk tanah yang dipakai oleh pedagang di kios renteng Batuar adalah tanah negara. Ketika dipindahkan ke Pasar Sukowati, mereka juga mendapatkan kios, meski ukurannya menyesuaikan. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram