Kepala MTsN 2 Sragen H. Drs. M. Aris Suparlan M.Pd menyampaikan, upacara dilangsungkan tertib dan lancar. Peserta didik yang ikut serta dalam kegiatan ini berjumlah 1026 orang, kemudian guru dan pegawai berjumlah 70 orang. Tidak hanya itu, peserta upacara undangan yang turut hadir adalah guru non ASN madrasah ibtidaiyah (MI), sekitar 80 orang dan guru SD 28 orang.
”Tidak sekadar menggelar upacara, kami juga mengadakan sejumlah kegiatan. Seperti pembacaan amanat menteri agama oleh kepala madrasah. Sesuai perintah Kemenag, tiap tamu undangan diminta berpakaian adat juga,” ujarnya.
Agar suasana lebih akrab, para siswa diberi kesempatan untuk menilai 10 guru yang mengenakan busana adat terbaik. Setelah dipilih, guru tersebut mendapatkan penghargaan.
Ada beberapa guru yang terpilih, yang menggunakan pakaian adat yang cukup unik, seperti Qodariyana Fauziyah (pakaian dayak), Mursini (Sulawesi Utara), H. Ngatiman (Betawi), hingga Mei Dwi Utomo dengan pakaian adat Jawa. Selain itu ada pula yang memakai adat Aceh, dan beberapa daerah lainnya di acara ini.
”Setelah pemberian penghargaan pada 10 busana adat terbaik, kami berikan penghargaan bagi guru inovatif dan berdedikasi di madrasah,” paparnya.
Ada sejumlah indikator penilaian, mulai dari penampilan menarik, punya kasih sayang dan empati pada anak, serta dianggap ramah dan perhatian para siswa. Termasuk juga kategori guru yang menegakkan kedisiplinan mengajar, hingga guru penggiat kegiatan keagamaan.
”Jadi dipilih langsung oleh anak-anak, dan dibacakan oleh anak-anak juga,” jelasnya.
MTsN 2 Sragen tetap mengutamakan untuk mendidik dan mengembangkan potensi anak didiknya. Hal tersebut dijawab dengan berbagai prestasi. Pihaknya menegaskan sudah meraih lebih dari 1300 prestasi di tingkat nasional. Pencapaian itu merupakan hasil pembinaan yang tepat dari tim bina prestasi.
”Saat ini madrasah tengah gencar menerapkan dan menyosialisasikan dan pembiasaan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Kami juga memenuhi sarana prasarana yang berhubungan dengan kegiatan siswa. Mulai dari peralatan kesenian, karawitan, marching band, hingga berbagai alat music lainnya, seperti rebana. Termasuk fasilitas kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler, termasuk pramuka, IT, dan sebagainya,” jelasnya.
Menyambut tahun baru ini, Masjid Baitul Hikmah di sekolah setempat juga tengah berdiri kukuh. Masjid ini berdiri di lahan seluas 430 meter persegi, dengan bangunan terdiri dari dua lantai. Selain untuk ibadah, bangunan ini juga untuk kegiatan keilmuan. Kondisinya sudah terbangun sekitar 90 persen.
Selain itu ada wakaf tanah untuk ruang UKS dan keterampilan juga. Ditambah aka nada penyediaan kelas digital sejumlah enam ruang, dan saat ini tiga diantaranya masih proses pembangunan. ”Meski di kampung, MTsN 2 Sragen punya nuansa standar nasional,” terangnya. (din/nik) Editor : Damianus Bram