Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen Ekarini Mumpuni Titi Lestari mengatakan, kejadian ini bisa dikatakan rutinitas setiap tahun. Ketika memasuki musim pancaroba dan terjadi perbedaan suhu air.
Situasi tersebut mengakibatkan limbah sisa pakan naik ke permukaan dan mengganggu oksigen. Lantas mengakibatkan kematian ikan masal. Apalagi ikan dalam jumlah banyak dan padat di keramba tidak leluasa menghindar.
”Data yang kami dapat dari PPL, ada dua lokasi di Dusun Ngasinan dan Boyolayar, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang,” terangnya, Rabu (4/1/2023).
Dia menjelaskan di Ngasinan terdapat 15 Rumah Tangga Perikanan (RTP) dengan 28 petak terkena upwelling. Kebetulan pada saat kejadian ukuran ikan siap panen, lantas kematian ikan sekitar 40 ton. Sedangkan di Boyolayar terdapat 6 RTP, dengan 7 petak yang terkena upwelling. Kematian ikan sekitar 30 ton.
”Kalau siap panen, pada umumnya dari petani harga Rp 25 ribu/ kilogram. Tinggal menghitung perkiraan jumlah yang mati. Total 70 ton ikan yang mati,” ujarnya.
Lantas Upaya dari dinas terkait sebenarnya sudah dilakukan. Yakni selalu rutin ada kegiatan penyuluhan dari para PPL. Terkait bimbingan teknis jika ada upwelling, informasi cuaca dan sebagainya. ”Masyarakat sekitar pada umumnya sudah cukup sadar dan waspada, kalau musim seperti ini biasanya terjadi peladu atau upwelling,” terang dia.
Kemudian langkah antisipasi, biasanya menghindari kejadian ini keramba ditarik ke tempat yang lebih dalam. Namun saat ini Ekarini memastikan sirkulasi air lebih baik. Apalagi kalau sudah ada hujan, otomatis ada tambahan air dan sirkulasi oksigen lebih baik. (din/dam) Editor : Damianus Bram