Kepala Desa (Kades) Sukorejo Sukrisno menyampaikan, di Sukorejo terdapat grup musik keroncong dan wayang. Selanjutnya dilakukan kolaborasi untuk lebih mengenalkan desa Sukorejo.
”Jadi di desa lain belum ada, congyang ini adanya di Sukorejo,” terangnya usai launching Congyang, Sabtu (4/3/2023).
Sukrisno menyampaikan, congyang ini menjadi ikon desa dalam hal kebudayaan. Dalam pementasannya, jalan ceita tetap menggunakan pakem wayang.
”Kami sesuaikan dengan kondisi desa untuk jalan ceritanya. Misal saat ini kami membangun ekonomi kerakyatan, kami bawakan lakon Semar Bangun Ekonomi,” ujarnya.
Pihaknya kini sudah menyiapkan sanggar yang berada di tengah kebun sentra durian yang dikembangkan oleh desa. Di sanggar tersebut akan dipusatkan untuk kegiatan kebudayaan.
”Kami akan buat jadwal rutin setiap bulan sekali ada pagelaran congyang,” ujarnya.
Untuk tugas jadi dalang, dia mampu melaksanakan. Sedangkan kelompok Keroncong Deworejo merupakan kelompok asli desa tersebut. ”Mulai tahun ini, kami tambah pembiayaan dana desa,” terangnya.
Sementara untuk menghadirkan wisatawan, Sukrisno sudah menjalin koordinasi dengan biro wisata. Sehingga diharapkan paket yang diberikan bisa menarik wisatawan.
Sementara Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati berjanji terus mendampingi Desa Sukorejo agar menjadi desa wisata yang berkembang. Dia mendorong kades mampu mengembangkan dan tidak sekadar memiliki SK desa wisata.
”Tidak mudah mendapat SK desa wisata. Embrio desa wisata ada 45 dan desa wisata di Sragen ada lima,” terangnya.
Sementara itu anggota DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto mengaku bangga dengan inovasi tersebut. Termasuk langkah pihak pemerintah desa mendorong sukorejo menjadi desa Wisata.
”Congyang ini bukan minuman lho. Ini musik keroncong dan pagelaran wayang kulit, jadi inovasi dan kreasi pihak desa. Semoga semakin dikenal dan menjadi rujukan untuk didatangi,” tandasnya. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram