Di malam-malam tertentu, kerap digelar ritual. Hajatnya beragam. Mulai ingin lolos ujian aparatur sipil negara (ASN) hingga agar menang pertandingan sepak bola.
Keterangan warga sekitar, petilasan Setono wingit dan angker. Tumbuh pohon beringan yang rindang. Namun, pada 2019, lokasi setempat dipugar oleh pihak desa, sehingga saat ini nampak lebih terang.
Setiap pasaran Jumat Legi, tidak sedikit yang datang ke tempat ini. Membawa bunga dan dupa. Sentono disebut-sebut sebagai petilasan dari Raden Said, putra dari Pangeran Sambernyawa X. Lokasi ini menjadi salah satu pos perjuangan melawan penjajah Belanda.
Kembali lagi ke soal kemistikan tempat ini. Dari sejumlah sumber Jawa Pos Radar Solo mengatakan, bagi yang ingin menang dalam pertandingan sepak bola, bola yang akan digunakan diletakkan di area petilasan sehari semalam. Konon tim yang melakukan hal tersebut tak terkalahkan.
Selain itu, cerita yang berkembang di masyarakat, ketika ada event di Alun-Alun Desa Katelan dan panggungnya membelakangi Petilasan Sentono, bakal mendapat halangan.
”Dulu ada tontonan layar tancap. Layarnya mungkuri (membelakangi) petilasan. Akhirnya hujan deras tak bisa berhenti sampai layarnya dipindah. Begitu pula dengan bola yang ditaruh sini dan didoakan. Musuhnya tak bisa menang,” ujar Pitono Wijoyo, sesepuh desa setempat.
Ada pula tradisi warga Dusun Gilis ketika hendak menggelar resepsi pernikahan, yakni pengantin laki-laki harus mengelilingi kampung sebanyak tiga kali. Jika nekat, pernikahan akan batal.
Ditambahkan Pitono, pernah suatu ketika, potongan dahan pohon beringin digunakan untuk kayu bakar dan akhirnya menyebabkan bencana kebakaran. Empat orang meninggal terpanggang dalam musibah tersebut. (din/wa/dam) Editor : Damianus Bram