Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jebakan Tikus dari Listrik Sudah Tewaskan 23 Petani di Sragen

Ahmad Khairudin • Rabu, 30 Agustus 2023 | 16:14 WIB
SOLUSI: Kotak yang dihuni burung hantu dipasang di tengah sawah sebagai predator tikus.
SOLUSI: Kotak yang dihuni burung hantu dipasang di tengah sawah sebagai predator tikus.

RADARSRAGEN.COM – Imbauan agar petani di Sragen tidak menggunakan jebakan listrik untuk memberantas hama tikus sawah terus digaungkan. Sebab, selama 4 tahun terakhir tercatat sudah ada 23 jiwa tewas akibat jebakan listrik yang dipasang petani.

Kondisi ini mengundang keprihatinan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Salah satu solusi untuk mengatasi hama tikus ini yakni dengan  mendorong petani untuk memanfaatkan burung hantu sebagai binatang predator pemakan tikus.

Yuni menilai pemanfaatan burung hantu cukup tepat dan efektif. Sebab itu, selain pemkab, juga dibuka bantuan dari berbagai pihak untuk menyumbang burung hantu sebagai pengusir tikus.

”Cukup efektif, karena tikus kita banyak di sekitar jalur tol. Efektif karena kami lebih memilih predator alami, karena berdampak pada semuanya," ujar bupati saat menerima penyerahan bantuan burung hantu berserta rumahnya dari Jasamarga Solo Ngawi di Desa Kebonromo, Ngrampal, Sragen, kemarin (29/8).  

Yuni mengatakan, pemkab bersama kepolisian telah melarang penggunaan jebakan tikus listrik yang membahayakan manusia. Apalagi puluhan petani sudah menjadi korban saat memasang jebakan tersebut.

”Sudah 23 korban, nyawa petani melayang dari 2019 sampai 2023. Makanya sekarang jebakan listrik sudah tidak boleh lagi digunakan. Sekarang kita kerahkan burung hantu sebagai predator tikus yang lebih aman," tandasnya.

Yuni mengatakan, Sragen menjadi lumbung pangan nasional. Luasnya lahan pertanian membutuhkan sekitar 100 rumah burung hantu.

”Kalau kami hitung setiap 500 meternya butuh satu ekor saja. Kami tadi minta ke JSN antara 80-100 rumah burung hantu. Tentu dengan burungnya,” bebernya.

Selain bantuan JSN, Pemkab Sragen juga telah menganggarkan untuk pengadaan rumah burung hantu dan isinya di sejumlah wilayah lain. Bahkan dana desa diperbolehkan untuk pengadaan rumah burung, selaras dengan program ketahanan pangan. 

"Di beberapa titik desa seperti di Kedawung, Pengkok, Celep itu mereka menganggarkan sendiri dari dana desa. Karena sesuai dengan peruntukannya memang diperbolehkan untuk ketahanan pangan," katanya lagi. 

Direktur Utama JSN Mery Natacha Panjaitan mengatakan, ada 20 rumah burung hantu yang dibagikan untuk tiga kelompok tani. Yakni sembilan untuk kelompok tani Desa Kebonromo, delapan unit untuk kelompok tani Desa Bandung dan tiga unit untuk kelompok tani Desa Pilangsari.

”Ini wujud kepedulian PT JSN terhadap lingkungan sekitar terutama wilayah terdekat dengan jalur tol Solo-Ngawi,” terangnya.

Salah satu petani Sriluwih mengatakan, senang dengan bantuan tersebut. Dia berharap petani bisa terbantu untuk memberantas hama tikus. Sehingga panen padi bisa maksimal. 

”Dulu kami pakai jebakan listrik. Tapi malah banyak petani yang kesetrum dan menjadi korban. Ini kita mulai memanfaatkan burung hantu,” bebernya. (din/bun)

Editor : Damianus Bram
#Burung Hantu #bupati sragen kusdinar untung yuni sukowati #petani #jebakan listrik #jebakan tikus