RADARSRAGEN.COM – Kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam penanganan HIV/AIDS di Sragen perlu ditingkatkan. Lantaran saat ini masih ada diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Dibutuhkan peran masyarakat selaku penggerak dalam mendukung para penderita untuk tetap bersemangat agar bisa pulih.
Tema Hari Aids Sedunia 2023 yakni Let's Communities Lead. Seperti diketahui, HIV adalah virus yang menyerang dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan AIDS.
Perlu pemeriksaan dalam mendeteksi dan menegakkan diagnosis HIV pada seseorang.
Sebagai langkah edukasi, masyarakat perlu mengetahui cara penularan HIV. Di antaranya hubungan seksual tanpa pengaman.
Kemudian transfusi darah dan transplantasi organ dari orang yang terinfeksi HIV. Lalu penggunaan jarum yang terkontaminasi atau tidak steril. Transmisi dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya selama kehamilan, persalinan dan menyusui.
Dalam perkembangannya, transfusi darah sangat minim sekali dapat menularkan infeksi HIV.
Karena alat screening darah oleh PMI sudah dilengkapi alat screening yang ketat dan canggih. Sehingga tidak perlu takut jika mau transfusi darah.
Selain itu, HIV tidak menular melalui bersentuhan, berciuman, bersalaman, dan berpelukan. Serta tidak menular lewat peralatan makan dan minum, menggunakan kamar mandi bersama, berenang di kolam renang, gigitan nyamuk dan tinggal serumah bersama ODHA.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sragen A. Haryoto menjelaskan, Hari AIDS Sedunia 2023 ini mengambil tema nasional yakni Bergerak Bersama Komunitas, Akhiri AIDS 2030.
Sebagai gambaran tema Global yakni Let's Community Lead, yang bermakna saatnya komunitas memimpin di depan.
Komitmen ini diharapkan mampu mewujudkan AIDS berakhir pada 2030. Demi mewujudkan hal tersebut, komunitas yang harus bergerak.
”Ada program dari tingkat pusat, ada rencana strategis nasional, dilanjutkan provinsi dan daerah terkait penanggulangan aids. Termasuk dukungan dari luar pemerintah, lintas sektor di Sragen sekurang-kurangnya ada tiga lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membantu kami,” terangnya dalam talkshow terkait Hari Aids Sedunia beberapa waktu lalu.
Pihaknya menjelaskan, LSM banyak membantu seperti pendampingan minum obat untuk pasien. Selain itu juga menjangkau kelompok masyarakat yang rentan terjadi penularan.
Bahkan juga ada kepedulian pendampingan bagi kelompok homoseksual atau lelaki suka lelaki (LSL). Pihaknya tidak menutupi berbagai komunitas yang rentan tersebut ada di Sragen.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sragen Sri Subekti menjelaskan, terkait target 2030, sudah roadmap sejak 2012. Secara bertahap dilakukan program untuk mencapai tersebut.
”Jadi 2030 kami targetnya tidak ada inveksi baru HIV/Aids. Tidak ada lepas pengobatan HIV/Aids dan tidak ada diskriminasi pada pengidap HIV/Aids,” ujarnya. (din/adi)
Editor : Damianus Bram