RADARSOLO.COM – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sragen pada awal tahun ini meningkat.
Setidaknya hingga awal Februari ini sudah ada tiga orang meninggal dunia akibat DBD.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sragen, laporan suspek demam berdarah mencapai 46 kasus hingga Senin (5/2).
Kasus DBD yang cukup banyak ditemukan di wilayah Kecamatan Sumberlawang, Kecamatan Mondokan, Kecamatan Plupuh.
Dari 20 kecamatan di Sragen didorong untuk lebih sering melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Sekretaris Dinkes Kabupaten Sragen Fanni Fandani mengungkapkan, pihaknya mengajak masyarakat agar menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Kemudian meningkatkan gerakan PSN secara rutin mengingat ini musim penghujan.
”Kami PSN itu rutin di puskesmas atau di lingkungan masyarakat. Kan PSN itu dari masyarakat pendampingan itu dari kader. Harusnya kalau melihat bak mandi harus pakai senter, kemudian cara mengurus dan 3M dilaksanakan dengan benar,” kata Fanni.
Tak hanya itu bagian Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Sragen juga rutin menggelar sosialisasi di car free day.
Pihaknya juga membagikan serbuk abate cuma-cuma kepada masyarakat.
”Di CFD kami rutin sosialisasi PSN bagi-bagi abate. Yang butuh silahkan menghubungi petugas. Yang dikasih itu yang tidak bisa dikuras, seperti bak air toren itu,” ujar Fanni.
Sementara itu peran kader pemantau jentik nyamuk melalui gerakan satu rumah satu jumantik kembali diefektifkan.
Pihaknya berharap semua masyarakat gotong royong dalam melakukan PHBS dan PSN.
”Kalau satu rumah tok yang rajin, tapi tetangga nggak rajin, ya percuma,” ucap dia.
Sementara Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta bidan desa segera mengecek ke lapangan.
Yuni rencananya akan menggelar rapat koordinasi DBD pada Rabu (7/2). Sosialisasi PSN jadi bagian upaya prefentif.
”Saya minta bidan desa turun. Cek dan sisir lapangan. Dorong masyarakat untuk PSN,” ujarnya. (din/adi)