RADARSOLO.COM- Sentara kuliner Brigjen Katamso Kabupaten Sragen yang diresmikan 2021, ibarat hidup segan, mati tak mau.
Tempat yang diharapkan menjadi destinasi pemburu kuliner, malah sepi. Hanya segelintir pedagang yang bertahan.
Seharusnya, sentra kuliner Brigjen Katamso diisi 21 pedagang. Banyak pedagang enggan bertahan karena dipastikan merugi. Itu karena sepinya pembeli. Saat ini hanya tersisa 3 pedagang.
Awalnya, sentra kuliner Brigjen Katamso dimaksudkan untuk menyediakan makanan khas dan legendaris di Kabupaten Sragen.
Namun konsep itu gagal. Banyak pedagang yang angkat tangan. Kepala Diskumindag Sragen Cosmas Edwi Yunanto tidak menepis situasi sulit tersebut.
Sehingga sentra kuliner yang semestinya bisa menjadi pengembangan kota, justru mangkrak.
Diskumindag segera memanggil pemegang hak guna usaha di sentra kuliner Brigjen Katamso.
Mereka akan diberi pilihan melanjutkan usaha atau mengembalikan status hak guna usaha yang dipegang.
”Kalau memang (hak guna usaha) dikembalikan, ya segera. Kami mau tawarkan ke pelaku UMKM yang lain,” ujar Cosmas.
Diskumindag pernah memanggil para pedagang di sentra kuliner Brigjen Katamso untuk sharing dan mendapatkan masukan. Namun, tetap saja, progresnya nol.
”Kalau tidak salah yang aktif hanya 3 pedagang,” ujarnya.
Sebelumnya, pedagang bazar durian sempat berjualan di sentra kuliner Brigjen Katamso.
Mereka berencana berdagang selama sepekan. Tapi baru tiga hari, pedagang bazar durian pamit undur diri karena sepinya pembeli.
Lalu bagaimana dengan konsep kuliner khas atau menu legendaris? Cosmas menjelaskan, juga tak banyak diminati.
Itu karena konsumen lebih memilih datang ke pembuatnya langsung karena dianggap lebih otentik.
Setali tiga uang, nasib sentra kuliner Garuda tak jauh beda. Sedikit sekali pedagang yang bertahan.
Itu diamini Kabid Sarana Distribusi Diskumindag Sragen Aan Suyitno.
Menurutnya, tantangan usaha kuliner adalah dari pedagang sendiri.
Harus bisa menjaga pelanggan dengan cara mempertahankan cita rasa, kualitas, pelayanan, kebersihan dan sebagainya.
Aan mencontohkan kuliner di Taman Tiara Sakari Beloran. Awalnya, tempat ini ramai. Tapi sekarang ditinggalkan pembeli.
”Banyak faktor yang memengaruhi. Masyarakat Sragen memang senang mencoba. Kalau rasa atau harga kurang cocok, mereka akan berpikir ulang,” beber dia. (din/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono