RADARSOLO.COM – Para petani di tiga desa Kecamatan Tanon mengeluhkan kondisi saluran air dari sekitar Waduk Ketro. Lantaran saat hujan deras, persawahannya sering tergenang.
Kepala Desa (Kades) Gawan, Kecamatan Tanon Sutrisna menyampaikan, selama ini ada sejumlah desa yang terdampak.
Ketika hujan deras dan Waduk Ketro tak mampu menampung air, luapan air membludak ke areal persawahan. Dia memperkirakan lebih dari 220 hektare yang tergenang.
”Banjir area persawahan sangat sering, apalagi ketika hujan dan situasi waduk juga penuh,” terang Sutrisna, Rabu (22/5).
Pihaknya merinci di Desa Jono ada sekitar 60 hektare terdampak. Desa Gawan justru lebih besar sekitar 160 hektare. Kemudian sebagian kecil Desa Kecik.
"Namun berbeda saluran, kalau Kecik air yang berasal dari Kalikobok,” terangnya.
Dia meminta Pemerintah Kabupaten Sragen mengambil tindakan. Di antaranya normalisasi saluran sebelah selatan.
”Sebelah selatan jalan sudah ada saluran, namun perlu dinormalisasi, agar air bisa segera masuk ke sungai,” beber dia.
Kemudian pemerintah perlu membuat saluran di sisi utara jalan. Selain itu perlu dibuat saluran drainase Gawan-Jono.
Terdapat saluran Karangwaru-jono yang perlu dinormalisasi. Ditambah ada sungai kecil yang melintas di Jono-Padas-Kecik yang juga perlu dinormalisasi.
”Kalau kerugian petani jelas banyak, karena ada 220 hektare lebih. Beberapa waktu lalu dari Gapoktan Jono sudah bersurat dan kami akan berdiskusi dengan DPU bidang pengairan terkait situasi tersebut,” jelasnya.
Dia menjelaskan, Desa Gawan termasuk yang paling sering terdampak. Karena lokasinya berada di tepi Bengawan Solo. (din/adi)
Editor : Adi Pras