RADARSOLO.COM – Debit air tujuh waduk di Kabupaten Sragen terus menyusut seiring puncak musim kemarau. Hal itu mengancam ribuan hektare lahan pertanian di Sragen.
Sebagai salah satu kabupaten yang menjadi sentra padi di Jawa Tengah, Sragen memiliki beberapa waduk yang cukup strategis.
Di antaranya waduk Botok dan Brambang di Kecamatan Kedawung. Waduk Gebyar dan Blimbing di Kecamatan Sambirejo. Kemudian Waduk Gembong dan Kembangan di Kecamatan Karangmalang. Serta Waduk Ketro di Tanon.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari menjelaskan, beberapa waduk memang sudah mengering pada Agustus 2024 ini.
Namun menurutnya situasi itu tidak begitu berdampak terhadap petani.
Karena selain memanfaatkan irigasi waduk, petani juga mencari cara lain untuk produksi.
Saat ini sudah banyak yang memanfaatkan sumur dalam.
”Kalau bero memang bisa, karena memang lahan tidak ditanami saat memasuki musim kemarau. Sehingga petani tidak begitu berdampak hingga sampai puso. Karena memang sudah memanfaatkan sistem pengairan lain seperti sumur dalam," papar Eka Rini, Minggu (1/9/2024).
Menurut Eka Rini, rata-rata waduk di Sragen mengairi areal pertanian 26 ribu hektare pada masa tanam (MT) III ini.
Hanya saja tidak semua menggunakan air waduk. Sehingga untuk pertanian relatif aman dan tidak terpengaruh dengan kondisi surutnya air waduk.
Dia menjelaskan, pada MT III atau saat musim kemarau ini diperkirakan ada 26.000 hektare sawah yang ditanami padi.
Namun jika MT I bisa mencapai 40.000 hektare. Tergantung kondisi lahan masing-masing.
"Tentu petani sudah berhitung agar tidak sampai puso atau gagal panen," imbuhnya.
Pihaknya menjelaskan beberapa areal persawahan menyesuaikan komoditas tanam. Seperti jagung dan sebagainya yang lebih tahan dengan sedikit air. (din/adi)
Editor : Adi Pras