RADARSOLO.COM – Pembangunan sumur dalam untuk wilayah kekeringan sejak 2023 lalu dinilai efektif. Namun, 30 persen dari total total sumur yang dibangun perlu ada perbaikan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Hargiyanto menjelaskan, ada 33 sumur yang telah dibuat tahun lalu. Dari jumlah tersebut, 100 persen masih bisa difungsikan. Hanya saja 30 persen di antaranya perlu berbaikan teknis.
”Evaluasi kami 30 persen harus perbaikan, tapi 100 persen masih keluar air. Jadi yang perbaikan itu masih bisa dimanfaatkan, tapi kurang bagus,” bebernya, Minggu (6/10/2024).
Hargiyanto menambahkan, saat ini sudah berkurang dropping air menggunakan tangki dengan jumlah yang banyak.
Hal tersebut menunjukkan efektifitas pembangunan sumur dari dana yang dihimpun oleh corporate social responsibility (CSR) ini. Pihaknya menyebut tahun ini bakal ada 15 pembuatan sumur lagi dari CSR.
Sementara Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menjelaskan, dengan pembuatan sumur ini mengurangi lokasi kekeringan. Bantuan menggunakan sumur bisa lebih lama dan lebih banyak menjangkau warga terdampak.
Menurutnya, sumber air bisa lebih bertahan jika dilakukan penghijauan. Bantuan sumur lewat CSR ini bisa mengurangi permintaan dropping air bersih. Pelaksanaan dilakukan sejak tahun lalu. Bupati menargetkan 20 titik sumur, namun baru direalisasikan enam titik.
”Saya usahakan kembali perusahaan di Sragen untuk ikut membantu,” jelasnya
Sementara Direktur Utama PDAM Tirto negoro Sragen Hanindyo Heru Prayitno menambahkan, biaya per sumur rata-rata mencapai Rp 35 juta dalam satu lokasi. Termasuk fasilitas pompa dan penampungan air. Debit yang dikeluarkan 0,5 liter per detik.
”Kalau di Sumberlawang ini untuk 2 RT dengan mencukupi kebutuhan sekitar 60 KK,” jelasnya.
Hanindyo menjelaskan, lokasi pada kesempatan ini di dua kecamatan yakni Sumberlawang dan Miri. Antara lain di Gagan, Desa Cepoko. Kemudian dua titik sumur di Dukuh Bulakrejo, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang.
Selanjutnya tiga titik sumur di Dukuh Sumberejo, Rejosari; dan Dondong Desa Gilirejo Baru, Kecamatan Miri. (din/adi)
Editor : Adi Pras