RADARSOLO.COM – Menjelang Lebaran 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen melakukan pemantauan ke sejumlah pasar tradisional, salah satunya Pasar Bunder Sragen.
Dalam kunjungannya, Bupati Sragen Sigit Pamungkas turut mendengar langsung aspirasi para pedagang.
Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah desakan dari sejumlah pedagang agar pasar di lahan okupasi sisi selatan Pasar Bunder ditertibkan atau dibubarkan.
Lokasi tersebut diketahui berdiri di atas lahan milik Kodim 0725/Sragen.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Sigit menyatakan akan mempertimbangkan seluruh aspek secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.
"Kita lihat semua faktor secara komprehensif sebelum menentukan kebijakan. Banyak spot yang harus diperhitungkan,” ujar Sigit, Jumat (21/3/2025).
Selain itu, Sigit juga menerima berbagai keluhan lainnya dari pedagang, seperti atap pasar yang bocor, kurangnya pencahayaan, hingga aspirasi dari pedagang luar pasar yang mengusulkan jam buka pasar dimulai lebih awal.
Dalam pantauannya, Bupati Sigit memastikan bahwa harga sejumlah komoditas masih tergolong stabil.
“Kita cek harga gula pasir, minyak goreng, cabai, daging ayam, dan daging sapi. Ada sedikit kenaikan, tapi masih dalam batas wajar,” jelasnya.
Sigit juga menyebutkan bahwa dari hasil uji takaran terhadap MinyaKita ditemukan selisih 0,2 liter dari ukuran 1 liter. Namun, hal ini masih dalam toleransi yang diperbolehkan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, baik dari sisi harga maupun ketersediaan barang,” tegasnya.
Menanggapi permintaan penertiban pasar di lahan okupasi, Dandim 0725/Sragen Letkol Inf Ricky Julianto Wuwung menjelaskan bahwa lahan tersebut memang milik Kodim, namun dikelola oleh koperasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Pasar itu tidak hanya untuk kepentingan Kodim. Di situ aktivitas jual beli buah, sayur, dan hasil bumi dari Cepogo berlangsung. Kita akan komunikasikan terlebih dahulu dengan koperasi pengelola pasar,” ujar Dandim.
Dandim juga menegaskan bahwa keputusan apapun harus mempertimbangkan dampak terhadap penghidupan pedagang.
“Kalau ditutup, bagaimana nasib para pedagang? Kita cari jalan tengah, jangan sampai memutus rezeki orang karena mendengar satu sisi saja,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan semua pihak terkait, termasuk Pemkab dan koperasi pengelola pasar, demi mencari solusi terbaik. (din)
Editor : Damianus Bram