Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bukan Organisasi Politik, SSB Pilih Tebar Cinta dan Kebaikan untuk Sragen

Ahmad Khairudin • Selasa, 25 Maret 2025 | 17:49 WIB
SSB adalah potret kebhinekaan yang hidup. Di dalamnya bergabung orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan profesi.
SSB adalah potret kebhinekaan yang hidup. Di dalamnya bergabung orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan profesi.

RADARSOLO.COM-Di tengah riuhnya kehidupan modern, masih ada sekelompok orang yang memilih menabur kebaikan dan merajut asa di tanah kelahiran.

Mereka adalah Sedulur Sragen Bersatu (SSB), komunitas lintas agama dan profesi yang berdiri atas dasar persaudaraan dan kecintaan pada Sragen.

SSB bukan organisasi politik, bukan pula kelompok dengan kepentingan sempit. Komunitas ini murni hadir sebagai ruang kolaborasi sosial, edukasi, dan pelestarian budaya lokal.

Dengan slogan #SedulurSelawase atau Saudara Selamanya, SSB berkomitmen menciptakan lingkungan yang aman, harmonis, dan saling peduli di Kabupaten Sragen.

Pada Minggu (23/3), SSB menggelar dua aksi sosial penuh makna di dua titik berbeda.

Pertama, mereka menyambangi Yayasan Yatim Piatu dan Pondok Pesantren Murni Ar-Rahman (Ma'had Putra) Gemolong.

Di sana, sebanyak 75 anak yatim dan santri menerima santunan serta kasih sayang dari para relawan.

Tak berhenti di sana, SSB melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Al Jamiliyah Ngaglak, Gemolong, dengan semangat yang sama—menebar kebaikan dan memberi dukungan nyata kepada para santri.

“Kegiatan ini bukan sekadar bagi-bagi bantuan. Kami ingin menanamkan nilai kepedulian sosial, edukasi tentang bahaya narkoba dan korupsi, serta melestarikan seni dan budaya Sragen,” ujar Hendry Santoso, koordinator SSB yang akrab disapa Hendry Momon.

SSB menegaskan komitmennya pada prinsip terbuka dan transparan.

Setiap bantuan yang disalurkan berasal dari donasi anggota, termasuk anggota dari unsur TNI.

Namun, Hendry mengakui bahwa kontribusi dari kalangan kepala desa dan anggota DPRD masih belum optimal.

Baca Juga: Aksi Sosial Dharma Wanita Persatuan ISI Surakarta Berlanjut: setelah Donor Darah, Kini Giliran Bikin Bazar Murah

"Yang kami lakukan bukan sekadar program bantuan, tetapi membangun kesadaran sosial dan menjadikan Sragen tempat yang lebih baik untuk semua,” imbuhnya.

Menariknya, SSB adalah potret kebhinekaan yang hidup. Di dalamnya bergabung orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan profesi.

Mulai dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, hingga Buddha. Anggotanya terdiri dari TNI, Polri, pengusaha, hingga profesional di berbagai bidang.

“Kami percaya bahwa keberagaman adalah kekuatan. Kami ingin menunjukkan bahwa orang dari latar belakang berbeda bisa bersatu untuk tujuan yang sama: kebaikan,” ucap Hendry.

Aksi sosial SSB juga mendapat dukungan dari berbagai tokoh masyarakat yang menaruh perhatian pada masa depan Sragen.

Hendry berharap langkah-langkah kecil ini bisa menginspirasi masyarakat luas untuk ikut berbuat dan terlibat.

“Kami ingin jadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton. Semoga apa yang kami lakukan bisa menginspirasi orang lain untuk ikut berkontribusi bagi Sragen,” tuturnya.

Setiap aksi sosial SSB selalu disertai dengan doa dan harapan terbaik.

“Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, diberi kesehatan, panjang umur, dan rezeki yang halal dan barokah,” pungkas Hendry Momon.

Sedulur Sragen Bersatu adalah bukti nyata bahwa semangat persaudaraan masih hidup di tengah masyarakat.

Mereka adalah pejuang kebaikan—pahlawan tanpa tanda jasa yang menebar cinta dari hati, untuk tanah kelahirannya tercinta. (din/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Sedulur Sragen Bersatu #aksi sosial #lintas agama #ssb