Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

PG Mojo, Satu-satunya Pabrik Gula Aktif di Solo Raya yang Bertahan di Tengah Krisis Lahan Tebu

Ahmad Khairudin • Selasa, 1 April 2025 | 14:05 WIB
MAKIN KUKUH: Pabrik Gula Mojo di Sragen masih beroperasi untuk menggiling tebu untuk menjadi gula.
MAKIN KUKUH: Pabrik Gula Mojo di Sragen masih beroperasi untuk menggiling tebu untuk menjadi gula.

RADARSOLO.COM – Pada masa kejayaan industri gula era kolonial Belanda, wilayah eks Karesidenan Surakarta dikenal sebagai salah satu pusat produksi gula terbesar.

Seiring berjalannya waktu, satu per satu pabrik gula (PG) di Solo Raya berhenti beroperasi. Kini, hanya PG Mojo di Sragen yang masih bertahan sebagai pabrik gula aktif.

Pada masa lalu, jumlah pabrik gula jauh lebih banyak. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak yang berhenti beroperasi dan beralih fungsi.

Seperti PG Colomadu di Karanganyar yang saat ini telah dialihfungsikan menjadi De Tjolomadoe, sebuah kompleks wisata yang meliputi museum, pusat konvensi, dan area komersial. Lokasi  ini masih memiliki arsitektur bangunan yang menarik dan bersejarah.

Di Klaten ada PG Gondang Baru, pabrik gula ini sekarang lebih dikenal dengan nama Gondang Winangun.

Di kabupaten tetangga, ada juga bangunan tua bekas PG Gembongan di Kartasura, Sukoharjo yang sekarang menjadi sebuah tempat wisata dengan koleksi barang-barang antik dan spot foto menarik.

PG Gembongan sempat berganti nama jadi The Heritage Palace Solo, namun kini telah memiliki nama baru, yakni Rasa Madu Heritage.

Sementara untuk PG Tasikmadu di Karanganyar ini sebenarnya beberapa tahun lalu masih beroperasi. Namun sejak 2021 PG tidak beroperasi lagi untuk menggiling tebu. Kawasan ini hidup dari adanya Agrowisata Sondokoro.

Di wilayah Solo Raya, terdapat beberapa pabrik gula yang memiliki sejarah panjang. Mayoritas telah beralih fungsi menjadi tempat wisata atau bangunan bersejarah.

Namun, di tengah menurunnya industri gula lokal, PG Mojo tetap eksis. Bahkan menjadi satu-satunya pabrik gula di Solo Raya yang masih aktif beroperasi hingga saat ini.

Bertahan Berkat Pasokan Tebu Lokal

Manajer Pengolahan PG Mojo, Sugiyanto, mengatakan bahwa keberlanjutan PG Mojo tak lepas dari suplai bahan baku yang melimpah.

Tebu dari wilayah Sragen tak hanya mencukupi kebutuhan lokal, tapi juga bisa dikirim ke pabrik gula di daerah lain.

“Tahun lalu kami menggiling 264.000 ton tebu dan menghasilkan 11.000 ton gula. Tahun ini target giling naik menjadi 277.000 ton,” jelas Sugiyanto, Jumat (28/3/2025).

Revitalisasi menjadi kunci kebangkitan PG Mojo. Setelah sempat mati suri, kini kapasitas giling mencapai 4.000 ton tebu per hari.

Di wilayah Sragen, terdapat sekitar 4.000 hektare lahan tebu yang menjadi sumber bahan baku utama.

Persaingan dengan pabrik gula luar daerah seperti PG Madukismo, Blora, Trangkil, dan Rejo Agung memang ketat. Namun PG Mojo punya keunggulan dari segi efisiensi biaya.

“Ongkos kirim kami jauh lebih murah karena lokasinya dekat dengan lahan tebu. Ini yang membuat kami tetap eksis,” tandasnya.

PG Mojo juga memberikan kontribusi besar terhadap tenaga kerja lokal. Saat musim giling, pabrik ini mempekerjakan sekitar 600 karyawan, sementara di luar musim giling terdapat 250 orang yang tetap bekerja.

Dengan eksistensinya, PG Mojo bukan hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga harapan industri gula di masa depan. (din/nik)

Editor : Damianus Bram
#PG Mojo #pabrik gula #Bertahan #pg colomadu #PG Tasikmadu #tebu #PG Gembongan #pg gondang winangun