RADARSOLO.COM - Pabrik Gula (PG) Mojo masih berdiri di kawasan perkampungan padat penduduk di Kelurahan Sragen Kulon, Kabupaten Sragen.
Berdiri sejak era kolonial Belanda tahun 1883, pabrik ini menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang hingga kini masih aktif memproduksi gula.
Sejarawan alumni Program Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Mawardi Purbo Sanjoyo M.A menyampaikan pada era tersebut, pendirian PG Mojo merupakan investasi raksasa.
Dari berbagai data literasi yang didapatnya pabrik ini berdiri dengan modal 350.000 gulden. Pada era tersebut, menjadi nilai yang cukup fantastis.
Didukung kebijakan tanam paksa komoditas tebu pada saat itu, gula menjadi komoditas ekspor yang sedang berjaya.
”Pembangunan PG Mojo sebagai bagian dari strategi kolonial untuk meraup untung dari gula, baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.
Pengajar salah satu universitas negeri ini menyampaikan PG Mojo pada saat itu punya jaringan lori atau decauville membentang puluhan kilometer. Menghubungkan kebun tebu di sekitar pabrik untuk mempermudah sistem distribusi dan efisiensi pengangkutan tebu.
Namun, perkembangan teknologi dan munculnya truk membuat jalur lori sudah ditinggalkan.
Lantas Pasca kemerdekaan, PG Mojo beralih ke pangkuan Indonesia pada 1959. Dikelola PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN IX), pabrik ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun industri gula nasional yang mandiri.
Mawardi menyampaikan, keberadaan PG Mojo punya nilai sejarah tinggi. Dari jejak tanam paksa, era kolonial, hingga nasionalisasi, pabrik ini menawarkan cerita panjang.
Maraknya perkebunan tebu dan industri gula pada saat itu juga berdampak pada budaya kuliner masyarakat sekitarnya.
”Sehingga wajar sampai saat ini karakter kuliner masyarakat Jawa di wilayah yang kaya dengan kebun tebu memiliki karakter rasa manis,” ujarnya.
Selain itu dia berpendapat jika karakteristik bangunan bisa jadi daya tarik wisata heritage. Seperti yang sudah dikembangkan di beberapa pabrik gula lainnya.
Kemudian sisa jalur lori dan jembatan tua bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah, sekaligus memberi nilai tambah bagi warga Sragen. “Potensinya besar, asal dikelola dengan serius,” menurut pemerhati budaya ini.
Dia menegaskan diluar aspek industri, PG Mojo merupakan warisan yang harus dijaga sebagai salah satu pabrik gula tertua yang masih beroperasi.
Menjadi simbol eksistensi industri gula nasional, sekaligus menginspirasi bagaimana sejarah bisa hidup di tengah zaman. (din/nik)
Editor : Damianus Bram