Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Seni Tayub Sragen Terancam Punah, Ini Harapan Seniman Lokal

Ahmad Khairudin • Jumat, 4 April 2025 | 16:15 WIB
Ilustrasi penari tayub.
Ilustrasi penari tayub.

RADARSOLO.COM-Di tengah derasnya arus modernisasi, Sragen masih menyimpan satu tradisi kuno yang terus bertahan: Tari Tayub.

Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi merupakan cerminan kekayaan budaya, nilai-nilai sosial, dan spiritualitas masyarakat Sragen, khususnya wilayah utara Bengawan Solo.

Dalam setiap gerakan gemulai penari perempuan atau ledhek, dengan balutan kostum tradisional Jawa, tersirat cerita panjang tentang sejarah dan kehidupan lokal.

Iringan musik gamelan—mengalun lewat denting gong, kenong, dan saron—mengajak penonton larut dalam perjalanan batin yang mendalam.

“Tari Tayub ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan spiritualitas yang kental dalam budaya Sragen,” ungkap Sri Wahono, tokoh masyarakat Tangen.

Menurut Sri Wahono, Tayub memiliki posisi penting dalam berbagai acara adat, terutama hajatan pernikahan.

Ia menyebut, keberadaan tayub seperti sudah menjadi keharusan dalam setiap pesta masyarakat utara Bengawan.

“Kalau jagong ke wilayah utara, pasti yang ditampilkan Tayub. Tanpa Tayub, rasanya kurang,” tuturnya.

Namun, keberlangsungan tayub menghadapi tantangan serius.

Menurunnya minat generasi muda serta minimnya dukungan dari pemerintah membuat seni ini perlahan meredup.

Heru Agus Santoso, mantan Ketua Dewan Kesenian Sragen sekaligus pegiat tayub, menyebut potensi tayub belum tergali maksimal.

Padahal, menurutnya, Sragen memiliki peluang besar menjadikan tayub sebagai ikon wisata budaya.

Baca Juga: 2024 Seni Budaya Aktif Dikembangkan di Kota Solo, 13 Event Baru Jadi Pembuktian

“Sragen tak punya gunung atau pantai. Tapi bisa merekayasa potensi. Tayub bisa menjadi daya tarik utama,” ujarnya.

Heru mendorong agar pemerintah daerah kembali menggelar Festival Tayub antar Kecamatan secara rutin.

Festival ini bisa menjadi ajang unjuk karya sanggar seni dan sekaligus pelestarian tayub pakem Sragenan yang memiliki ciri khas tersendiri.

Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya perhatian pada pembinaan sumber daya manusia (SDM) di bidang tayub.

Heru menilai saat ini Sragen kekurangan pegiat tayub yang mau total mengabdikan diri demi melestarikan seni ini.

“Orang yang rela berkorban untuk tayub jumlahnya sangat sedikit. Perlu gayung bersambut dari pemerintah,” tegasnya.

Padahal, secara geografis, Sragen dekat dengan ISI Surakarta yang memiliki banyak akademisi seni.

Namun sayangnya, gerakan dari akar rumput (grassroot) untuk menjaga tayub masih kurang.

“Sebenarnya ada dukungan dari kalangan akademisi, tapi belum menyentuh masyarakat bawah,” imbuh Heru.

Tari Tayub tak hanya soal hiburan. Ia membawa makna filosofis yang dalam.

Seperti konsep empat kiblat lima pancer dalam tata gerak penarinya, serta nilai kesuburan, keharmonisan, dan godaan dalam setiap elemennya.

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjaga kelestariannya. Tayub adalah kekayaan intelektual lokal yang tak ternilai. (din/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Tayub #terancam punah #seniman lokal #sragen #tari