RADARSOLO.COM – Seorang guru agama SDN di wilayah Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen berinisial WAN alias Wahid, 25, ditangkap polisi atas tuduhan pelecehan terhadap siswinya.
Korbannya merupakan siswi kelas 2 SD dan masih berusia 8 tahun. Korban berinisial AB mengalami pelecehan berulang oleh pelaku.
Perbuatan bejat ini diduga dilakukan sejak 2024 di ruang kelas selama pelajaran agama.
”Modus pelaku yakni mendekati korban di bangkunya saat mengerjakan LKS. Pelaku meminta korban memegang bagian tubuh pelaku. Perbuatan serupa berulang lebih dari 20 kali, khususnya pada hari Selasa saat pelajaran agama,” ujar Kapolres Sragen AKBP Petrus Parningotan Silalahi, Selasa (6/5/2025).
Pada Selasa (22/4/2025) sekitar pukul 07.00 saat korban mengerjakan soal di ruang kelas, pelaku mendekati korban.
Lalu pelaku duduk di sampingnya dan memaksa tangan korban kembali memegang bagian tubuhnya.
Puncak kejadian terjadi pada (29/4/2025). Saat itu pelaku kembali mencoba perbuatan serupa. Namun gagal lantaran korban berteriak ketakutan.
”Korban sudah bercerita pada kakaknya yang berusia 19 tahun, jika ada kejadian lagi untuk berteriak,” terang kapolres.
Korban didampingi keluarganya akhirnya melapor ke Polres Sragen. Pelaku ditangkap pada Rabu (30/4/2025).
Polisi langsung memeriksa pelapor, korban, saksi, dan mengamankan barang bukti berupa seragam sekolah korban.
Setelah gelar perkara, pelaku ditetapkan sebagai tersangka, ditangkap, dan ditahan pada hari yang sama.
Kapolres menambahkan, pelaku dijerat Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76E UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, sebagaimana diubah oleh UU Nomor 17 Tahun 2016, dengan ancaman hukuman berat. ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun.
”Pelaku diduga punya ketertarikan terhadap korban, memanfaatkan posisinya sebagai guru agama untuk mendekati dan melakukan pelecehan,” jelasnya.
Selain itu, pelaku terpengaruh video porno. Pihak polisi masih mendalami kemungkinan ada korban lainnya.
Sementara itu, Wahid mengaku memanfaatkan korban karena penurut. Sebenarnya ada delapan siswi dalam kelas yang diajarnya.
”Karena dia penurut, waktu tangannya saya tarik, kejadian pertama kali tidak menjerit,” ujar Wahid. (din/adi)
Editor : Adi Pras