RADARSOLO.COM – Kondisi Jembatan Kedung Teropong yang menghubungkan Celep (Kecamatan Kedawung) dan Jirapan (Kecamatan Masaran), Sragen kian memprihatinkan.
Jembatan peninggalan Belanda yang menjadi urat nadi transportasi warga ini sudah tiga tahun tak tersentuh perbaikan.
Padahal setiap hari dilintasi truk bertonase besar pengangkut beras, pasir, dan hasil bumi lainnya.
Tokoh masyarakat Sragen, Suyadi Kurniawan mengungkapkan kekesalannya.
”Sudah diajukan sejak tahun kemarin, kabarnya sudah dicek DPU (Dinas Pekerjaan Umum), tapi sampai sekarang belum ada tindakan,” ujar Suyadi, Senin (23/6/2025).
Jembatan dengan panjang sekitar 25 meter dan lebar 3 meter ini dianggap tidak layak lagi. Lebar idealnya, menurut Suyadi, adalah 5-6 meter agar mampu menopang lalu lintas berat.
Di sekitar jembatan ini terdapat banyak sekolah, pasar, penggilingan padi, dan area pertanian yang sangat bergantung pada akses ini.
”Kalau tidak segera diperbaiki, kami minta gabung Karanganyar saja. Seharusnya perbatasan itu jadi skala prioritas,” tegas Suyadi meluapkan kekecewaan warga.
Dia menambahkan, saat ini jembatan memang masih bisa dilalui. Namun kondisinya sangat mengkhawatirkan.
Jika jembatan ini sampai rusak total, warga terpaksa harus memutar sejauh sekitar 3 kilometer, yang tentu akan menghambat aktivitas ekonomi dan pendidikan.
Desakan untuk perbaikan segera ini merupakan bentuk harapan warga agar pemerintah Kabupaten Sragen segera bertindak sebelum terjadi insiden yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Sragen Budiono Rahmadi menekankan pekerjaan urung dilaksanakan tahun ini.
”Pasti nanti diselesaikan, pekerjaan ditunda bukan dibatalkan. Pekerjaan bukan tahun ini,” tandasnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras