RADARSOLO.COM – Di balik ruang pamer Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Bukuran, Kalijambe, Sragen, ada pekerjaan yang jarang terlihat pengunjung—kerja senyap konservator fosil yang memelihara ribuan koleksi prasejarah. Suara alat kecil yang terdengar sesekali dari laboratorium konservasi, menjadi saksi bisu dari proses rumit ini.
Koordinator Konservator Museum Manusia Purba Sangiran Nurul Hidayat menjelaskan, tugas mereka tidak hanya membersihkan fosil, tetapi juga menjaga agar setiap koleksi tetap utuh dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
"Tugas kami bukan hanya membersihkan. Kami memastikan koleksi tetap asli, utuh, dan dapat dipelajari di masa depan," ujarnya.
Konservasi fosil bukanlah pekerjaan yang sembarangan. Setiap langkah harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar struktur fosil yang rapuh tidak rusak. Semua bahan yang digunakan, seperti alat pembersih dan bahan kimia, harus alami dan bisa dikembalikan jika suatu saat perlu koreksi.
Tiga prinsip etika konservasi cagar budaya menjadi dasar pekerjaan ini: keaslian, intervensi minimum, dan reversibilitas. Menurut Nurul, prinsip keaslian memastikan bahwa fosil tetap dalam kondisi asli, sementara intervensi minimum mengharuskan konservator menggunakan metode yang tidak mengubah atau merusak struktur. Terakhir, prinsip reversibilitas berarti semua tindakan konservasi bisa dibatalkan, sehingga tidak ada kerusakan permanen yang terjadi.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi konservator adalah fosil yang mengalami piritisasi, di mana tulang fosil berubah menjadi bubuk akibat perubahan suhu dan kelembapan yang tidak stabil.
“Tim konservasi harus bekerja dengan hati-hati, memilih metode yang paling aman dan tepat untuk menjaga kekuatan struktur fosil,” ujar dia.
Selain piritisasi, perubahan iklim mikro di dalam ruang penyimpanan juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun koleksi fosil disimpan dalam ruang tertutup, suhu dan kelembapan tetap bisa memengaruhi kualitasnya. Sebab itu, pemantauan iklim mikro yang ketat sangat penting dalam proses konservasi ini.
Proses konservasi fosil bisa memakan waktu berbulan-bulan, tergantung pada kondisi fosil tersebut. Untuk fosil yang membutuhkan penguatan, tim konservasi menggunakan bahan kimia khusus untuk menjaga kekuatan dan integritasnya.
“Untuk satu fosil saja, waktu yang diperlukan bisa bervariasi antara satu hingga dua hari untuk pembersihan ringan, hingga berbulan-bulan untuk perawatan lebih intensif,” kata dia.
Selain menangani fosil purba, tim konservasi juga mengurus koleksi referensi berupa tulang belulang hewan modern seperti gajah dan kera yang diperoleh dari kebun binatang. Koleksi ini digunakan untuk membandingkan struktur dan anatomi dengan fosil yang ditemukan di lapangan.
Meskipun pekerjaan konservasi jarang terlihat oleh pengunjung, proses ini sangat krusial untuk memastikan bahwa fosil yang telah berusia ribuan tahun tetap terjaga dengan baik. Tanpa perawatan yang teliti, fosil bisa rusak atau bahkan hilang. (ihs/bun)
Editor : Kabun Triyatno