Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Inovasi Bersajadah di Desa Kedawung Sragen Mampu Hasilkan Uang dari Sampah, Ini Penjelasannya

Ahmad Khairudin • Minggu, 13 Juli 2025 | 19:10 WIB
Kantor Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Kantor Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Sragen. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di sudut kecil Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Sragen tumpukan sampah yang dulu jadi pemandangan sehari-hari kini berubah menjadi cerita harapan.

Di balik jalan-jalan desa yang kian bersih, ada sebuah gerakan sederhana namun bermanfaat.

Pemerintah desa setempat menyebutnya BERSAJADAH, singkai dari Berkat Sampah Jadi Berkah.

Program ini tak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga mengisi dompet warga dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Sebelumnya botol plastik bekas, kardus usang, atau kantong kresek yang biasanya berserakan tak berguna kini punya nilai.

Di tangan warga Kedawung, sampah itu bukan lagi masalah, melainkan peluang.

Melalui sistem Bank Sampah, mereka memilah, menyetor, dan “menabung” sampah yang kemudian ditukar dengan uang tunai atau kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng.

“Dulu sampah cuma bikin pusing, sekarang jadi tambah pemasukan,” ujar Siti, seorang ibu rumah tangga yang kini rajin memilah sampah di rumahnya.

“Saya bisa beli kebutuhan pokok tanpa keluar uang sepeser pun, cukup dengan sampah dari dapur,” cerita Siti sambil tersenyum lebar.

Camat Kedawung Endang Widayanti menuturkan gerakan ini adalah awal dari Sebuah Perubahan. Semua bermula dari keresahan.

Sampah berserakan, kesadaran warga yang minim, dan tempat pembuangan akhir (TPA) yang kian penuh menjadi tantangan besar bagi Desa Kedawung.

Hingga pada 17 Desember 2018, sekelompok Aparatur Sipil Negara (ASN) di desa ini mencoba sesuatu yang baru.

Uji coba kecil-kecilan dilakukan. Dengan edukasi dan pelan pelan meningkatkan kesadaran warga untuk pilah dan olah sampah.

Setelah terbukti berhasil, bersajadah resmi diluncurkan pada 1 Januari 2024.

“Ide ini lahir dari kepedulian sederhana: bagaimana caranya lingkungan bersih sekaligus warga sejahtera,” ungkap Endang, dengan mata berbinar.

Dia menjelaskan bahwa bersajadah bukan sekadar program, tetapi sebuah rekayasa sosial yang mengajak warga melihat sampah dengan cara baru sebagai “harta” yang bisa diolah.

Endang menyebut BERSAJADAH berdiri di atas empat pilar kokoh. Pertama, sosialisasi dan edukasi.

Tim bersajadah tak kenal lelah mengedukasi warga melalui pelatihan dan penyuluhan, menanamkan pentingnya memilah sampah dari rumah.

Kedua, pembentukan Bank Sampah, tempat warga bisa menyetor sampah terpilah dan mencatatnya sebagai tabungan.

Ketiga, pengolahan sampah dan insentif ekonomi, di mana sampah bernilai ekonomis disalurkan ke pihak yang membutuhkan, sementara warga mendapat imbalan berupa uang atau sembako.

Keempat, monitoring dan evaluasi, memastikan roda program terus berputar dan dampaknya nyata.

"Hasilnya? Luar biasa. Volume sampah yang dikirim ke TPA berkurang drastis. Lingkungan desa kini lebih hijau dan sehat. Yang lebih membanggakan, tabungan warga baik dalam bentuk uang maupun barang meningkat," ungkapnya.

Dia menilai bersajadah bukan hanya soal kebersihan. Ini tentang memberdayakan warga untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Program ini mengajarkan bahwa perubahan besar tak selalu butuh teknologi canggih atau anggaran besar.

Dengan kolaborasi, kemauan, dan sedikit kreativitas, sampah yang dulu dianggap musuh kini jadi sahabat. Kesadaran kolektif warga pun melonjak.

Sekolah-sekolah di Kedawung mulai mengadopsi sistem serupa, membantu siswa menabung sampah untuk biaya pendidikan.

“Anak-anak sekarang jadi paham, sampah itu bukan cuma dibuang, tapi bisa jadi apa saja,” ujarnya.

Menurutnya Di Desa Kedawung, bersajadah telah menciptakan budaya baru.

Kebersihan bukan lagi tanggung tanggung jawab petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama. Lebih dari itu, program ini membuktikan bahwa sampah, jika dikelola dengan bijak, benar-benar bisa menjadi berkah.

Ketika mentari terbit di Kedawung, warga tak lagi memandang sampah dengan jijik. Mereka melihat peluang, harapan, dan masa depan yang lebih baik.

Semua dimulai dari tumpukan kecil yang dulu mereka abaikan. bersajadah adalah bukti bahwa dari hal sederhana, keajaiban bisa tercipta. (din/adi)

Editor : Adi Pras
#sragen #pengelolaan sampah #Kedawung #sampah